Tuturpedia.com – Industri perfilman Indonesia kembali mencatat tonggak baru. Film “Agak Laen: Menyala Pantikku!” resmi menempati posisi teratas sebagai film Indonesia terlaris sepanjang masa, dengan raihan 10.740.245 penonton. Capaian ini menempatkan film produksi kolaborasi Imajinari, Jagartha, Trinity Entertainment Network, A&Z Films, hingga Legacy Pictures tersebut di atas deretan film box office Tanah Air yang lebih dulu mencetak sejarah.
Berdasarkan data peringkat film terlaris yang beredar, posisi kedua ditempati oleh “Jumbo”, film produksi Visinema Studios bersama Springboard dan Anami Films. Film yang dirilis pada 2025 ini mengumpulkan 10.233.002 penonton, hanya terpaut sekitar setengah juta dari posisi puncak. Sementara itu, “KKN di Desa Penari” fenomena horor yang tayang pada 2022 bertahan di peringkat ketiga dengan 10.061.033 penonton.
Masuknya dua film rilisan 2025 di posisi teratas menunjukkan geliat baru perfilman nasional, terutama pascapandemi. Tren ini mengindikasikan bahwa minat masyarakat terhadap bioskop tidak hanya pulih, tetapi juga tumbuh dengan cepat, ditopang oleh strategi promosi agresif dan kekuatan word of mouth di media sosial.
Film “Agak Laen” versi sebelumnya yang dirilis pada 2024 juga masih bertengger di jajaran sepuluh besar. Film tersebut berada di posisi keempat dengan 9.126.607 penonton, memperlihatkan kekuatan waralaba dan basis penggemar yang solid. Sutradara Muhadkly Acho tercatat menjadi salah satu nama yang paling menonjol, dengan dua filmnya masuk daftar teratas.
Di bawahnya, film komedi “Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1” menempati posisi kelima. Film yang tayang pada 2016 itu mengumpulkan 6.858.616 penonton dan menjadi salah satu pembuka era kebangkitan film komedi modern Indonesia di bioskop. Disusul “Pengabdi Setan 2: Communion” karya Joko Anwar di posisi keenam dengan 6.391.982 penonton, mempertegas dominasi genre horor yang konsisten menarik penonton lintas generasi.
Genre drama romantis remaja juga masih memiliki tempat kuat. “Dilan 1990” dan “Dilan 1991”, yang masing-masing menempati posisi ketujuh dan kesepuluh, secara kolektif mencatat lebih dari 11 juta penonton. Nama Fajar Bustomi dan Pidi Baiq kembali tercatat sebagai duet kreator yang berhasil mengadaptasi kisah populer ke layar lebar dengan sukses komersial besar.
Sementara itu, film “Miracle in Cell No. 7” berada di posisi kedelapan dengan 5.852.916 penonton, membuktikan bahwa film adaptasi dengan kekuatan emosi masih relevan dan diminati. Di posisi kesembilan, “Vina: Sebelum 7 Hari” mencatat 5.815.945 penonton, memperpanjang daftar film horor berbasis kisah populer yang berhasil mencuri perhatian publik.
Dominasi rumah produksi seperti MD Pictures, Falcon Pictures, Max Pictures, Visinema Studios, dan Imajinari menegaskan bahwa konsistensi produksi dan pemahaman pasar menjadi kunci keberhasilan di tengah persaingan industri yang kian padat. Kolaborasi lintas rumah produksi juga terlihat semakin umum, seiring meningkatnya skala produksi dan ambisi menjangkau penonton lebih luas.
Capaian ini sekaligus menjadi sinyal positif bagi ekosistem perfilman nasional. Di tengah persaingan platform digital dan perubahan pola konsumsi hiburan, bioskop tetap menjadi ruang utama bagi film-film lokal untuk bertemu langsung dengan jutaan penontonnya.
Dengan tren ini, tahun-tahun ke depan diprediksi akan semakin kompetitif. Rekor jumlah penonton yang kini melampaui 10 juta membuka standar baru, sekaligus tantangan bagi sineas dan produser untuk menghadirkan cerita yang bukan hanya laris, tetapi juga relevan dengan denyut masyarakat Indonesia.***
