Tuturpedia.com — Indonesia menyimpan keragaman buah lokal yang tumbuh alami di berbagai wilayah, dari hutan tropis Kalimantan hingga pegunungan Papua. Sebagian di antaranya masih jarang dikenal secara nasional karena terbatasnya distribusi dan minimnya budidaya komersial. Padahal, buah-buah ini telah lama menjadi bagian dari konsumsi masyarakat lokal dan memiliki karakter rasa yang khas. Berikut enam buah lokal Indonesia yang keberadaannya masih relatif tersembunyi.

Buah ucong (Baccaurea angulata), yang juga dikenal sebagai belimbing hutan, tumbuh liar di hutan Kalimantan. Bentuknya runcing dengan kulit berwarna merah ketika matang, sementara daging buahnya berwarna putih. Ucong kerap dikonsumsi langsung atau dijadikan campuran rujak oleh masyarakat setempat karena cita rasanya yang segar dan cenderung asam.
Masih dari kawasan timur Indonesia, terdapat buah jongi (Dillenia serrata Thunb) yang banyak ditemukan di Sulawesi, termasuk wilayah Poso. Buah ini memiliki ciri kulit yang akan terbuka sendiri saat matang, menyerupai kelopak bunga. Rasa jongi dikenal sangat masam dan sering dimanfaatkan sebagai penyedap alami dalam masakan tradisional, terutama pada olahan ikan.

Papua menyimpan buah endemik wonoromo (Pandanus yiluinea), yang tumbuh di wilayah Pegunungan Tengah. Buah ini berasal dari tanaman sejenis pandan dan dikenal dengan berbagai nama lokal seperti kari, hekali, helak, owadak, atau kelapa hutan. Wonoromo memiliki rasa gurih dengan tekstur halus hingga agak keras, dan menjadi sumber pangan penting bagi masyarakat setempat.
Dari Kalimantan juga terdapat buah kapul (Baccaurea macrocarpa). Buah ini memiliki rasa manis asam dengan tekstur daging yang kerap disamakan dengan manggis. Kapul dikenal memiliki dua jenis, yakni berdaging putih dan berdaging kuning. Meski cukup populer di daerah asalnya, kapul masih jarang ditemui di pasar-pasar besar.

Buah matoa (Pometia pinnata) menjadi salah satu buah Papua yang mulai dikenal lebih luas. Bentuknya menyerupai kelengkeng dengan kulit licin dan daging buah kenyal. Rasa matoa cenderung manis, perpaduan antara kelengkeng, rambutan, dan durian. Di Papua, matoa tumbuh alami di hutan dan juga mulai dibudidayakan di pekarangan warga.
Sementara itu, buah taer (Anisoptera thurifera) merupakan buah lokal yang tumbuh di wilayah Maluku dan Papua. Buah ini umumnya dikonsumsi oleh masyarakat adat sebagai pangan tambahan. Taer memiliki rasa asam segar dan kerap dimakan langsung atau diolah menjadi campuran masakan tradisional. Keberadaannya masih sangat terbatas di luar daerah asal.
Keenam buah ini mencerminkan kekayaan pangan lokal Indonesia yang belum sepenuhnya terangkat ke tingkat nasional. Di tengah upaya diversifikasi pangan dan penguatan ketahanan pangan berbasis lokal, buah-buahan endemik tersebut menyimpan potensi besar, baik sebagai sumber gizi maupun sebagai identitas kuliner daerah yang layak dilestarikan.***















