Blora, Tuturpedia.com – Harapan untuk memiliki ruang belajar yang lebih layak akhirnya mulai terwujud bagi keluarga besar SMP Negeri 1 Sambong, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Setelah sekitar dua tahun menanti, pembangunan dan rehabilitasi fasilitas sekolah kini berjalan melalui Program Revitalisasi Satuan Pendidikan Tahun Anggaran 2026 dengan alokasi anggaran Rp1,9 miliar.
Program dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) tersebut menjadi angin segar bagi siswa, guru, dan wali murid. Pasalnya, keterbatasan ruang kelas selama ini membuat sebagian siswa harus mengikuti kegiatan belajar mengajar di luar ruang kelas.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala SMPN 1 Sambong, Wiwik Sulistyowati, menjelaskan bahwa sekolah tersebut memiliki 543 siswa yang terbagi dalam 19 rombongan belajar (rombel).
Namun, sebanyak enam rombel atau 192 siswa belum dapat menempati ruang kelas reguler. Dengan jumlah 32 siswa per rombel, mereka terpaksa belajar di musala, lobi, aula, dan laboratorium sekolah.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa ketersediaan ruang belajar masih menjadi kebutuhan mendesak di SMPN 1 Sambong. Karena itu, pembangunan dan rehabilitasi fasilitas diharapkan dapat memberikan perubahan nyata terhadap kenyamanan siswa selama mengikuti pembelajaran.
Adapun pekerjaan yang dilaksanakan mencakup rehabilitasi enam ruang kelas, pembangunan tiga ruang kelas baru (RKB), rehabilitasi laboratorium IPA, serta rehabilitasi kantor tata usaha (TU).
Wiwik berharap, setelah pekerjaan selesai, fasilitas yang tersedia mampu menunjang kegiatan belajar mengajar secara lebih optimal. Dengan ruang belajar yang memadai, siswa diharapkan dapat mengikuti pelajaran dengan lebih nyaman dan guru dapat melaksanakan pembelajaran secara efektif.
Pelaksana pembangunan, Rasiman, menyampaikan bahwa proyek yang dimulai pada Juli 2026 tersebut telah mencapai progres 85 persen. Pekerjaan saat ini memasuki tahap akhir, termasuk pemasangan keramik dan penyelesaian bagian bangunan lainnya.
Selain meningkatkan fasilitas pendidikan, proyek tersebut turut melibatkan 29 tenaga kerja lokal.
Kebahagiaan atas pembangunan itu juga dirasakan Khamsiati, salah seorang wali murid kelas IX SMPN 1 Sambong. Ia menilai keberadaan gedung dan fasilitas yang lebih memadai menjadi harapan penting bagi anak-anak untuk memperoleh lingkungan belajar yang nyaman.
“Setelah ada program revitalisasi ini, alhamdulillah saya merasa senang sekali. Setelah dua tahun menanti, akhirnya gedung baru untuk anak-anak bisa terwujud sehingga mereka mendapatkan ruang pembelajaran yang layak dan nyaman,” kata Khamsiati.
Bagi wali murid, revitalisasi sekolah bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan investasi bagi masa depan anak-anak. Ruang belajar yang layak diharapkan dapat membantu siswa lebih fokus menerima pelajaran sekaligus menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih kondusif.
Meski progres pembangunan telah mencapai 85 persen, penyelesaian pekerjaan tetap menjadi hal yang dinantikan. Pasalnya, masih ada enam rombel yang membutuhkan ruang kelas memadai.
Dengan anggaran Rp1,9 miliar tersebut, masyarakat berharap revitalisasi SMPN 1 Sambong benar-benar menjawab persoalan keterbatasan fasilitas yang selama ini dihadapi sekolah. Keberhasilan program nantinya tidak hanya diukur dari rampungnya bangunan, tetapi juga dari manfaat nyata yang dirasakan siswa dan tenaga pendidik dalam kegiatan belajar mengajar sehari-hari.
Penulis: Lilik Yuliantoro | Editor: Permadani T.
