Blora, Tuturpedia.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Blora yang seharusnya menjadi solusi peningkatan gizi siswa, justru mendapatkan sorotan tajam. Wakil Bupati Blora, Sri Setyorini, melakukan inspeksi mendadak (sidak) setelah menerima laporan masyarakat terkait kondisi makanan yang tidak layak konsumsi di wilayah Kamolan, Kecamatan Blora Kota.
Laporan yang beredar menyebutkan adanya temuan ulat pada lauk ikan bandeng serta kondisi tahu yang sudah membusuk dalam paket menu yang dibagikan kepada siswa sekolah dasar.
Dalam sidak tersebut, Sri Setyorini tampak geram dan langsung mencecar pihak pengelola dapur/katering terkait standar operasional prosedur (SOP) pengolahan makanan. Ia menegaskan bahwa aspek kesehatan dan kebersihan adalah harga mati yang tidak bisa ditawar.
“Ini menyangkut kesehatan anak-anak kita. Saya tidak mau lagi ada laporan ulat di ikan atau tahu yang busuk. Pihak penyedia harus bertanggung jawab penuh atas kualitas bahan baku dan proses memasaknya,” tegas Sri Setyorini saat meninjau lokasi penyedia jasa.
Menanggapi temuan tersebut, pihak penyedia jasa mengakui adanya kelalaian dalam pengawasan bahan baku yang masuk dari pemasok. Mereka mengonfirmasi telah mengganti ratusan paket menu yang dipermasalahkan sebagai bentuk pertanggungjawaban.
“Kami sudah mengganti sekitar 395 paket menu untuk sekolah tersebut. Kejadian ini menjadi bahan evaluasi besar bagi kami untuk lebih ketat mengawasi setiap bahan baku yang datang,” ujar perwakilan penyedia jasa di hadapan Wakil Bupati.
Evaluasi Total dan Penekanan SOP
Wabup Sri Setyorini juga menyoroti aturan SOP Makan Bergizi Gratis yang mewajibkan pengambilan bahan baku dari UMKM lokal untuk memberdayakan ekonomi warga. Namun, ia mengingatkan agar pemberdayaan ini tidak boleh mengabaikan kualitas.
- Penyortiran Ketat: Semua bahan baku harus segar dan layak konsumsi.
- Kebersihan Dapur: Area pengolahan makanan wajib memenuhi standar kesehatan.
- Sanksi Tegas: Pemerintah Kabupaten Blora tidak akan segan memutus kontrak jika kejadian serupa terulang kembali.
“Boleh ambil dari lokal, memang itu tujuannya. Tapi harus diseleksi, jangan asal ambil tapi justru membahayakan gizi anak-anak kita,” pungkasnya.
