Indeks
News  

Dari Rumah ke Simbol: Membaca Satire “Tembok Ratapan Solo”

Surakarta, Tuturpedia — Sebuah rumah di Jalan Kutai Utara, Kelurahan Sumber, Kecamatan Banjarsari, Solo, kerap menjadi titik temu antara warga dan harapan. Kediaman pribadi Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, itu belakangan dijuluki “Tembok Ratapan Solo”. Istilah yang awalnya beredar sebagai seloroh di media sosial tersebut kini terlanjur melekat dan dipakai luas untuk menggambarkan fenomena sosial di sekitarnya.

Julukan itu bukan tanpa alasan. Rumah tersebut hampir selalu didatangi orang saat Jokowi berada di Solo. Bukan hanya warga biasa yang datang membawa map berisi surat permohonan bantuan, proposal usaha, atau aduan persoalan hukum dan tanah. Sejumlah pejabat publik, kepala daerah, hingga figur politik juga tercatat pernah sowan. Ada yang menyebutnya sebagai ajang silaturahmi, ada pula yang secara terbuka meminta masukan, dukungan moral, bahkan “restu politik”.

Di situlah makna satire itu muncul.

Dok. Tuturpedia.com

Satire atas Budaya “Mengadu ke Figur”

Sebutan “Tembok Ratapan Solo” menyiratkan kritik halus masyarakat terhadap budaya politik yang masih bertumpu pada figur. Ketika saluran birokrasi dianggap berbelit atau tak kunjung memberi jawaban, sebagian orang memilih jalur simbolik: datang langsung ke rumah tokoh yang dianggap punya pengaruh.

Fenomena ini tidak hanya memperlihatkan kedekatan seorang pemimpin dengan masyarakat, tetapi juga menjadi cermin bahwa figur tertentu masih dipandang sebagai pusat legitimasi. Bahkan bagi pejabat aktif sekalipun, kunjungan ke rumah tersebut kerap dibaca publik sebagai upaya mencari nasihat, penguatan posisi, atau sekadar sinyal politik.

Satire itu bekerja dalam dua lapis. Di satu sisi, ia menggambarkan harapan warga yang “meratap” agar persoalannya didengar. Di sisi lain, ia menyindir realitas bahwa keputusan dan pengaruh kerap diasosiasikan pada individu, bukan sepenuhnya pada institusi.

Dok. Tuturpedia.com

Analogi dengan Yerusalem

Istilah tersebut merujuk pada Tembok Ratapan, atau Western Wall, di Kota Tua Yerusalem. Di tempat itu, umat Yahudi berdoa dan menyelipkan secarik kertas berisi harapan di sela-sela batu dinding kuno. Tembok itu menjadi simbol ratapan, doa, dan pengharapan kolektif selama berabad-abad.

Di Solo, tentu tidak ada ritual keagamaan seperti itu. Namun analoginya terasa kuat: orang-orang datang membawa harapan dan kegelisahan, lalu menitipkannya baik dalam bentuk surat, percakapan singkat, maupun sekadar kehadiran fisik di depan pagar rumah.

Bedanya, jika di Yerusalem doa dipanjatkan kepada Tuhan, di Solo harapan itu diarahkan kepada figur manusia yang dianggap memiliki pengaruh dan jaringan kekuasaan.

Sejarah Singkat Tembok Ratapan Asli

Secara historis, Tembok Ratapan di Yerusalem merupakan sisa tembok penahan (retaining wall) kompleks Bait Suci Kedua yang dibangun pada masa Raja Herodes sekitar abad pertama sebelum Masehi. Bait Suci itu kemudian dihancurkan oleh Kekaisaran Romawi pada tahun 70 M.

Sejak saat itu, tembok tersebut menjadi tempat paling suci bagi umat Yahudi untuk berdoa, karena diyakini sebagai lokasi terdekat dengan ruang suci Bait Suci yang pernah berdiri. Tradisi menyelipkan kertas doa berkembang kemudian sebagai simbol harapan yang dititipkan di antara batu-batu tua yang sarat sejarah.

Simbol yang Terus Hidup

Di Solo, istilah “Tembok Ratapan” lahir dari dinamika sosial-politik kontemporer. Ia tidak tercatat resmi, tidak terpampang di papan nama, namun hidup dalam percakapan publik.

Sebutan itu mungkin bermula dari guyonan dan sindiran, tetapi kini menjadi metafora yang menjelaskan satu hal: betapa kuatnya daya tarik figur dalam politik Indonesia. Rumah pribadi bisa berubah menjadi ruang aspirasi informal, tempat masyarakat dan bahkan pejabat menitipkan harapan di luar jalur resmi.

Satire itu pada akhirnya bukan sekadar lelucon. Ia adalah potret tentang cara masyarakat memaknai kekuasaan, kedekatan, dan pengaruh dalam praktik sehari-hari.***

Exit mobile version