Blora, Tuturpedia.com – Di dunia jurnalistik dan aktivisme Jawa Tengah, nama Lilik Yuliantoro identik dengan suara lantang dan pena yang tajam. Sebagai sosok di balik Tuturpedia.com, ia terbiasa berhadapan dengan isu-isu pelik dan kebijakan publik. Jumat, (20/03/2026).
Namun, ketika hilal Ramadhan mulai tampak, sosok yang dikenal tak kenal takut ini menanggalkan sejenak “seragam” tempurnya. Ia beralih peran menjadi seorang penjaja kain, memikul ribuan sarung demi sebuah misi yang jauh lebih besar dari sekadar mencari laba.
Selama lima tahun terakhir, Lilik menekuni sebuah tradisi tahunan yang luar biasa: berjualan sarung mulai dari merek Wadimor, Atlas, Mangga, hingga kasta tertinggi, BHS. Bukan sekadar jualan musiman, volume penjualannya pun fantastis, menembus angka 1.000 hingga 5.000 potong sarung di setiap musim Lebaran.
Modal Nekat dan Momentum Keberkahan
Kisah ini tidak dimulai dengan modal besar dari investor. Lilik memulainya dengan satu aset utama: Nekat. Ia melihat momentum Lebaran bukan hanya sebagai ritual keagamaan, tetapi sebagai peluang ekonomi kerakyatan yang bisa ia konversi menjadi gerakan sosial.
“Awalnya hanya ingin memanfaatkan momentum. Tapi setelah dijalani, ada rasa tanggung jawab untuk memastikan orang-orang bisa beribadah dengan pakaian yang layak. Dan pesan Abah Yai, berdakwah melalui jualan sarung,” ujar Lilik saat ditemui tim Tuturpedia.com, di sela-sela kesibukannya menyortir tumpukan kardus sarung.
Dari teras rumah hingga pemanfaatan jejaring WhatsApp dan jaringan santri, Lilik bergerilya. Tak jarang, alumni keluarga besar Pondok Pesantren Sabilil Mustaqiem (PSM) Magetan, Jawa Timur ini, yang mengantar sendiri pesanan (COD), memastikan setiap helai kain Wadimor atau BHS sampai ke tangan pembeli dengan kualitas terbaik. Baginya, setiap transaksi adalah jalinan silaturahmi.
Di Balik Laba: Ada Perut yang Harus Kenyang
Namun, ada sisi dramatis yang jarang diketahui publik. Lilik Yuliantoro tidak menimbun keuntungan dari ribuan sarung yang terjual untuk kemewahan pribadi. Di balik angka penjualan yang mencapai 5.000 sarung itu, tersimpan misi kemanusiaan yang menggetarkan hati.
Hasil dari keuntungan penjualan sarung tersebut ia sisihkan secara signifikan untuk membeli paket sembako. Beras, minyak goreng, dan kebutuhan pokok lainnya ia kemas rapi untuk dibagikan kepada mereka yang membutuhkan—warga lansia yang hidup sendiri, kaum duafa yang tak punya upah tetap, hingga tetangga yang kesulitan merayakan hari raya.
“Pena saya mungkin bisa mengkritik ketidakadilan, tapi sarung-sarung ini adalah cara saya menyentuh langsung mereka yang lapar. Hasil jualan ini bukan milik saya sepenuhnya, ada hak orang lain di dalamnya,” tuturnya.
Keseimbangan Dua Dunia
Bagi banyak orang, melihat seorang aktivis dan jurnalis berjualan sarung mungkin dianggap kontras. Namun bagi Lilik, keduanya adalah satu tarikan napas. Jika jurnalistik adalah cara ia membela hak rakyat melalui kata-kata, maka berjualan sarung adalah cara ia membela perut rakyat melalui tindakan nyata.
Tahun 2026 ini menjadi bukti konsistensinya. Di tengah fluktuasi ekonomi, Lilik tetap mampu mempertahankan volume penjualannya. Kepercayaan pembeli yang terus meningkat membuktikan bahwa integritasnya sebagai jurnalis terbawa hingga ke dunia dagang.
Malam-malam menjelang Lebaran, saat sebagian orang mulai beristirahat, Lilik Yuliantoro masih terjaga. Bukan hanya memikirkan tenggat waktu tulisan (deadline), tapi memastikan tumpukan sembako siap meluncur ke rumah-rumah warga yang membutuhkan.
Pada akhirnya, bagi Lilik, Lebaran bukan tentang seberapa mahal sarung yang ia pakai sendiri, melainkan tentang berapa banyak orang yang bisa tersenyum karena bantuan yang ia alirkan dari hasil keringat berjualan sarung “nekat” tersebut.


















