Tuturpedia.com — Indonesia bukan hanya kaya suku dan budaya, tetapi juga rumah bagi lebih dari 700 bahasa daerah yang masih hidup dan digunakan. Di tengah arus standardisasi Bahasa Indonesia sebagai lingua franca nasional, bahasa-bahasa lokal tetap menyimpan kekhasan fonologi dan sistem bunyi yang mengagumkan.
Sejumlah bahasa bahkan menonjol karena karakteristiknya yang unik, mulai dari sistem bunyi yang kompleks, penggunaan nada, hingga pola kata yang terdengar tak lazim bagi penutur bahasa lain.
Berikut tiga bahasa daerah yang kerap disorot para linguis karena keistimewaannya: Bahasa Aceh, Bahasa Mpur, dan Bahasa Enggano.
Bahasa Aceh: Kekayaan Fonem yang Kompleks
Aceh dikenal bukan hanya karena sejarah dan budayanya, tetapi juga karena bahasanya yang memiliki sistem fonologi relatif kompleks dibanding banyak bahasa daerah lain di Nusantara.
Bahasa Aceh termasuk dalam rumpun Austronesia dan dituturkan oleh jutaan orang di pesisir utara Sumatra. Sejumlah penelitian linguistik menyebutkan bahwa Bahasa Aceh memiliki inventaris konsonan dan vokal yang kaya, termasuk konsonan letup, geser, sengau (nasal), hingga bunyi-bunyi aspiratif dalam variasi tertentu.
Dalam kajian fonologi yang dipublikasikan dalam Journal of the International Phonetic Association serta rujukan Ethnologue (SIL International), Bahasa Aceh memiliki sejumlah vokal oral dan vokal sengau (nasalized vowels) yang menjadi ciri pentingnya. Keberadaan vokal sengau ini membuat sistem bunyinya terasa lebih berlapis dibanding Bahasa Indonesia standar. Selain itu, diftong dalam Bahasa Aceh juga relatif produktif.
Linguis menyebut kompleksitas fonem seperti ini sebagai salah satu indikator kekayaan sistem bunyi. Bukan berarti “paling” dalam arti absolut, melainkan menonjol dalam konteks variasi bahasa-bahasa Nusantara.
Bahasa Mpur: Bahasa Bernada dari Papua Barat Daya
Beranjak ke timur Indonesia, terdapat Bahasa Mpur yang dituturkan di wilayah Kepala Burung, Papua Barat Daya. Bahasa ini sering disebut sebagai salah satu bahasa bernada (tonal language) di Indonesia.
Dalam bahasa bernada, tinggi-rendahnya nada pada satu suku kata dapat membedakan makna. Fenomena ini lebih lazim ditemukan di Asia Timur atau Afrika, tetapi relatif jarang dalam bahasa-bahasa Austronesia bagian barat Indonesia.
Sejumlah studi lapangan oleh peneliti linguistik Papua mencatat bahwa Bahasa Mpur memiliki beberapa pola nada, umumnya dideskripsikan antara tiga hingga lima kontur utama, meski realisasinya dapat bervariasi secara fonetis. Artinya, satu kata dengan struktur konsonan dan vokal yang sama bisa memiliki arti berbeda hanya karena perbedaan nada.
Keberadaan sistem nada ini menjadikan Bahasa Mpur penting dalam kajian tipologi linguistik Indonesia, sekaligus memperlihatkan bahwa wilayah timur Nusantara menyimpan keragaman struktur bahasa yang belum sepenuhnya terdokumentasi.
Bahasa Enggano: Pola Bunyi yang Tidak Biasa
Di Samudra Hindia, sekitar 100 kilometer dari pesisir Bengkulu, terdapat Pulau Enggano, rumah bagi Bahasa Enggano. Bahasa ini sering disebut sebagai salah satu bahasa paling unik di Indonesia dari sisi struktur leksikal dan fonologinya.
Beberapa peneliti, termasuk dalam publikasi Oceanic Linguistics dan laporan dokumentasi bahasa terancam punah, mencatat bahwa Bahasa Enggano memiliki perubahan fonologis yang cukup drastis dibanding bahasa-bahasa tetangganya di Sumatra. Banyak kosakatanya tampak “tidak mirip” dengan bentuk proto-Austronesia yang direkonstruksi.
Secara fonetik, Bahasa Enggano dikenal memiliki gugus vokal dan pola suku kata yang terdengar menonjol bagi penutur luar. Contoh-contoh leksikal yang dikutip dalam penelitian menunjukkan kombinasi vokal berurutan dan bunyi glotal yang relatif produktif.
Karena jumlah penuturnya terbatas dan mengalami tekanan dari dominasi Bahasa Indonesia, Bahasa Enggano kini masuk kategori rentan menurut data Ethnologue dan sejumlah proyek dokumentasi bahasa daerah.
Keragaman yang Perlu Dirawat
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi dalam berbagai laporan pemetaan bahasa daerah menegaskan bahwa Indonesia memiliki lebih dari 700 bahasa, dengan tingkat vitalitas yang berbeda-beda. Sebagian masih kuat, sebagian lain terancam punah.
Keunikan fonem Bahasa Aceh, sistem nada Bahasa Mpur, serta struktur khas Bahasa Enggano menunjukkan bahwa bahasa daerah bukan sekadar alat komunikasi lokal, melainkan laboratorium hidup bagi ilmu linguistik dunia.
Dalam konteks globalisasi, menjaga bahasa daerah bukan semata soal romantisme budaya. Ia menyangkut pelestarian pengetahuan lokal, identitas kolektif, serta kekayaan intelektual bangsa. Sebab di setiap bunyi, entah itu vokal sengau di Aceh, nada di Papua Barat, atau gugus vokal di Enggano, tersimpan sejarah panjang manusia yang menuturkannya.
