Indeks
News  

Dapur SPPG Tutup Blora, Ditutup 20 Hari

Blora, Tuturpedia.com — Operasional dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tutup, Desa Tutup, Kecamatan Tunjungan, Kabupaten Blora, dihentikan sementara selama 20 hari setelah 13 siswa penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG) mengalami gejala yang diduga berkaitan dengan konsumsi makanan yang disajikan. Sabtu, (10/10/2026).

Penghentian operasional tersebut dilakukan sembari menunggu hasil pemeriksaan laboratorium dan evaluasi untuk mengetahui penyebab kejadian serta memastikan keamanan makanan sebelum dapur kembali beroperasi.

SPPG Tutup diketahui dikelola oleh Yayasan Pelita Gizi Makmur. Kasus ini menjadi perhatian setelah sejumlah siswa dilaporkan mengalami keluhan berupa mual, pusing, hingga muntah setelah mengonsumsi menu MBG.

Koordinator Wilayah SPPG Kabupaten Blora, Artika Diannita, mengatakan pihaknya menerima laporan mengenai keluhan para siswa dan langsung menindaklanjutinya dengan mendatangi sekolah.

Berdasarkan pemeriksaan Puskesmas Tunjungan, terdapat 13 siswa yang mengalami gejala tersebut. Para siswa kemudian diperbolehkan pulang setelah mendapatkan pemeriksaan.

“Berdasarkan hasil pemeriksaan dari pihak Puskesmas Tunjungan waktu itu ada sekitar 13 siswa yang mengalami gejala mual, pusing, dan muntah. Kemudian untuk para siswa tadi sudah diperbolehkan pulang,” ujar Artika.

SPPG Dilaporkan ke Pimpinan Pusat

Artika menjelaskan, laporan kejadian telah diteruskan kepada pimpinan Badan Gizi Nasional (BGN). Laporan tersebut mencakup jumlah siswa yang mengalami keluhan, identitas SPPG penyedia makanan, serta menu yang disajikan.

Menurutnya, penghentian sementara selama 20 hari merupakan tindak lanjut atas laporan tersebut. Keputusan terkait operasional SPPG berada di tangan pimpinan BGN.

“Kita sudah laporan kejadian cepat ya, terkait dengan adanya keluhan, kemudian jumlahnya, kemudian dari SPPG mana, serta dari menu apa yang disajikan. Dari laporan tersebut, SPPG Tutup diberhentikan sementara selama 20 hari,” katanya.

Ia menambahkan, penghentian operasional dilakukan setelah laporan diterima dan ditindaklanjuti oleh pihak terkait.

“Kalau yang seperti biasanya ketika ada kejadian kita laporkan ke pimpinan pusat. Lalu untuk kemungkinan tutup, tutup sementara. Jadi kalau keputusan tetap ada pada pimpinan BGN,” terangnya.

Menunggu Hasil Laboratorium, Penyebab Belum Dipastikan

Hingga kini, hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan yang diduga berkaitan dengan munculnya keluhan para siswa masih ditunggu.

Hasil pemeriksaan tersebut menjadi bagian penting dalam proses evaluasi untuk mengetahui penyebab kejadian. Karena itu, dugaan keracunan belum dapat dipastikan sebelum hasil pemeriksaan dan penelusuran lebih lanjut diketahui.

Penghentian sementara juga menjadi momentum untuk mengevaluasi proses penyediaan makanan, mulai dari pengolahan hingga pendistribusian kepada para penerima manfaat.

Evaluasi diperlukan agar keamanan pangan benar-benar menjadi perhatian sebelum layanan kembali berjalan. Sebab, program MBG tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan gizi, tetapi juga menyangkut kesehatan dan keselamatan siswa yang menerima makanan setiap hari.

Satgas MBG Blora Lakukan Evaluasi

Wakil Bupati Blora, Sri Setyorini, yang akrab disapa Bude Rini, mengatakan dirinya telah menerima laporan mengenai kejadian tersebut. Saat kejadian dilaporkan, ia sedang berada di luar kota, sementara tim terkait langsung turun menindaklanjuti laporan.

Menurut Bude Rini, operasional SPPG Tutup dihentikan selama 20 hari untuk kepentingan evaluasi.

“Kemarin saya di luar kota, tim langsung turun lapor, dan hasilnya tutup 20 hari ke depan sambil dievaluasi,” ujarnya.

Penghentian sementara ini diharapkan tidak sekadar menjadi langkah administratif, tetapi juga diikuti pemeriksaan menyeluruh untuk memastikan penyebab kejadian dapat diketahui secara jelas.

Hasil evaluasi dan pemeriksaan laboratorium nantinya menjadi bagian penting dalam menentukan langkah selanjutnya, termasuk kesiapan dapur untuk kembali beroperasi.

Kasus di SPPG Tutup kembali menegaskan pentingnya pengawasan ketat terhadap pelaksanaan program MBG. Keamanan bahan pangan, kebersihan dapur, proses pengolahan, serta distribusi makanan harus menjadi prioritas agar tujuan pemenuhan gizi tidak justru menimbulkan risiko bagi kesehatan para siswa.

Hingga hasil pemeriksaan laboratorium keluar, penyebab munculnya gejala pada 13 siswa tersebut masih menunggu kepastian.

Penulis: Lilik Yuliantoro | Editor: Permadani T.

Exit mobile version