Blora, Tuturpedia.com – Pelaksanaan seleksi pengisian perangkat desa (perades) serentak di wilayah Kecamatan Kunduran, Kabupaten Blora, yang digelar di SMK Negeri 1 Kunduran pada Rabu (10/6), mendadak jadi sorotan panas. Bukan hanya karena persaingannya yang ketat, melainkan karena munculnya gelombang skeptisisme dan hujatan dari warganet di media sosial.
Sebagaimana diketahui bawahsanya sebanyak lima desa di Kecamatan Kunduran—yakni Desa Cungkup, Jagong, Kemiri, Plosorejo, dan Kalangrejo—membuka lowongan untuk 25 formasi perangkat desa. Sabtu, (13/06/2026).
Antusiasme warga sebenarnya cukup tinggi, terbukti dengan adanya 85 pendaftar, di mana 80 peserta di antaranya lolos seleksi administrasi dan berhak mengikuti ujian kompetensi berbasis komputer.
Klaim Camat: Transparan dan Bebas Transaksi
Berdasarkan vidio yang beredar di media sosial, Camat Kunduran, Lusiana, menegaskan bahwa seluruh proses seleksi berjalan secara terbuka, jujur, dan sesuai dengan regulasi yang ada. Ia menepis keras isu-isu miring terkait adanya “titipan” atau transaksi uang di bawah meja.
“Kami pastikan seleksi berjalan transparan dan sesuai aturan. Tidak ada jual beli jabatan,” tegas Lusiana saat memantau langsung jalannya tes di lokasi dalam vidio tersebut.
Netizen Menyerang: “Cuma Formalitas, Pesta Uang Dimulai”
Kendati pihak kecamatan sudah memberikan garansi transparansi, ruang komentar di akun informasi lokal seperti Blora Updates justru dibanjiri oleh komentar pedas dan hujatan netizen. Mayoritas warga internet mengaku sama sekali tidak percaya dengan proses seleksi tersebut.
Berdasarkan pantauan dari tangkapan layar komentar masyarakat di media sosial seperti pada isu “orang dalam” dan politik uang menjadi peluru utama netizen untuk menghujat jalannya seleksi ini. Seperti adanya tudingan Pengaturan Jabatan yang dilontarkan oleh Nitizen.
“@Akun Sutejo Budiyono menuliskan komentar sinis, “Nek ora karo wong njero (Kepala desa)… percuma. Ini cuma formalitas.” !!!
Senada dengannya, akun @Pakne Yoga Yoffy dengan gamblang menuduh, “jual beli jabatan itu pasti,,, seratus persen panen ikiii“.
Tak hanya itu, sindiran mengenai
biaya mahalnya kursi perangkat desa juga mencuat. Hal tersebut dikarenakan berkaca dari pengisian perangkat desa serentak di kabupaten Blora.
Akun Arie LB menulis, “wah mulai pesta uang 😂😂”, sementara akun Zaenal Abidin melempar jargon pendek yang menohok, “Wani piro“. Bahkan ada akun bernama Muhammad Gunawan yang berseloroh, “Adol sawah olehe tanah bengkok 😂” (jual sawah demi mendapatkan tanah bengkok jabatan).
Untuk diketahui bersama bahwa, demonstrasi kecurangan perangkat desa (2022), warga dan sejumlah organisasi masyarakat (ormas) menggelar aksi demo besar menuntut pembatalan dan penuntasan kasus dugaan kecurangan seleksi Perangkat Desa (Perades). Bahkan sejumlah kepala desa terjerat hukum terkait Perades.
