Tuturpedia.com – Berbuka puasa bukan sekadar melepas dahaga dan lapar setelah seharian menahan diri. Momentum ini juga menjadi fase krusial bagi tubuh untuk beradaptasi kembali menerima asupan makanan. Karena itu, pilihan menu pembuka tak boleh sembarangan. Sejumlah ahli gizi menyarankan konsumsi buah sebagai langkah awal yang lebih ramah bagi sistem pencernaan.
Secara fisiologis, setelah sekitar 12–14 jam berpuasa, kadar gula darah cenderung menurun. Tubuh membutuhkan sumber energi yang cepat diserap, namun tetap terkontrol. Di sinilah peran buah menjadi relevan.
Kurma: Tradisi yang Sejalan dengan Sains
Kurma kerap menjadi pilihan utama saat berbuka. Selain memiliki nilai historis dalam tradisi Islam, buah ini memang mengandung glukosa dan fruktosa alami yang mudah diserap tubuh. Data United States Department of Agriculture (USDA) menunjukkan kurma kaya karbohidrat sederhana, serat, serta mineral seperti kalium dan magnesium. Kombinasi ini membantu mengembalikan energi tanpa menyebabkan lonjakan gula darah yang terlalu drastis jika dikonsumsi dalam jumlah wajar.
Pisang: Isi Ulang Energi dan Jaga Pencernaan
Pisang mengandung karbohidrat, sukrosa, dan serat. Kandungan prebiotik alaminya mendukung kesehatan mikrobiota usus. Menurut Harvard T.H. Chan School of Public Health, pisang juga menyediakan kalium yang membantu menjaga keseimbangan cairan dan fungsi otot, penting setelah tubuh kehilangan elektrolit selama berpuasa.
Apel: Serat untuk Kendali Nafsu Makan
Apel dikenal kaya serat, terutama pektin, yang memberi rasa kenyang lebih lama. Polifenol dalam apel juga dikaitkan dengan kesehatan jantung. Konsumsi apel saat berbuka dapat membantu mengontrol asupan berlebihan pada sesi makan utama.
Pepaya: Sahabat Sistem Cerna
Pepaya mengandung enzim papain yang membantu proses pemecahan protein. Kandungan vitamin C dan antioksidannya mendukung daya tahan tubuh. Bagi mereka yang kerap mengalami sembelit selama Ramadan, pepaya dapat menjadi opsi alami untuk melancarkan pencernaan.
Semangka dan Melon: Rehidrasi Cepat
Semangka dan melon memiliki kandungan air lebih dari 90 persen. Cleveland Clinic menyebut buah dengan kadar air tinggi efektif membantu rehidrasi. Mengonsumsi semangka atau melon saat berbuka membantu mengganti cairan tubuh sekaligus memberi asupan gula alami dalam jumlah moderat.
Anggur: Kalium dan Antioksidan
Anggur mengandung kalium yang berperan dalam menjaga tekanan darah. Selain itu, kandungan antioksidan seperti resveratrol dikaitkan dengan perlindungan sel tubuh dari stres oksidatif.
Buah Naga: Kaya Serat dan Prebiotik
Buah naga mengandung serat dan senyawa prebiotik yang mendukung kesehatan usus. Kandungan airnya yang tinggi juga membantu mengganti cairan yang hilang selama puasa.
Buah yang Perlu Dibatasi
Meski buah umumnya sehat, tidak semuanya ideal dikonsumsi dalam jumlah besar saat berbuka.
Jeruk nipis dengan tingkat keasaman tinggi berpotensi memicu iritasi lambung, terutama bagi penderita gastritis. Durian, di sisi lain, memiliki kandungan gula dan kalori yang relatif tinggi sehingga dapat memicu lonjakan gula darah jika dikonsumsi berlebihan. Sementara nangka, meski bergizi, dikenal lebih sulit dicerna oleh sebagian orang dan dapat menyebabkan rasa tidak nyaman pada perut.
Prinsip Utama: Bertahap dan Seimbang
Ahli gizi klinis umumnya menyarankan berbuka dengan porsi kecil, dimulai dari air putih dan buah, lalu memberi jeda sebelum menyantap makanan utama. Pola ini membantu tubuh beradaptasi kembali tanpa “kaget metabolik”.
Pada akhirnya, berbuka puasa bukan soal seberapa banyak yang disantap, melainkan seberapa bijak memilih asupan. Buah-buahan segar dapat menjadi jembatan yang ideal antara kondisi puasa dan kebutuhan energi malam hari, asal dikonsumsi secara proporsional.
Dengan pendekatan yang tepat, momen berbuka tidak hanya mengembalikan tenaga, tetapi juga menjaga kesehatan jangka panjang.***
