Tuturpedia.com — Nama Aurelie Moeremans selama ini lekat dengan dunia hiburan, akting, musik, dan sorotan publik. Namun lewat bukunya Broken Strings, Aurelie memperkenalkan dirinya dari sisi yang jauh lebih personal: seorang manusia yang pernah rapuh, terluka, dan perlahan belajar berdamai dengan masa lalu.
Buku ini bukan kisah tentang gemerlap karier atau pencapaian di industri hiburan. Broken Strings justru lahir dari ruang sunyi tempat di mana emosi tak selalu rapi dan luka belum sepenuhnya sembuh. Sejak dirilis, buku ini langsung menarik perhatian karena keberaniannya mengangkat pengalaman hidup yang sensitif, namun dituturkan dengan jujur dan penuh empati.
“Aku menulis buku ini bukan karena aku sudah sembuh, tapi karena aku masih dalam proses,” tulis Aurelie dalam salah satu bagian bukunya. Dan tidak apa-apa untuk mengakui bahwa kita sedang berusaha.”
Senar yang Putus, Diri yang Retak
Judul Broken Strings menjadi metafora kuat yang menggambarkan kondisi emosional seseorang saat hidup terasa tidak lagi selaras. Senar yang putus tidak bisa menghasilkan nada yang sempurna seperti halnya manusia yang terluka, sulit menjalani hidup tanpa rasa nyeri.
Dalam buku ini, Aurelie mengisahkan masa-masa ketika ia merasa kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Relasi yang tidak sehat, tekanan emosional, dan kebingungan identitas menjadi bagian dari perjalanan hidup yang ia ceritakan tanpa menutup-nutupi.
“Ada masa ketika aku merasa suaraku diambil, keinginanku diredam, dan aku lupa siapa diriku sebenarnya. Yang tersisa hanya rasa takut dan kelelahan.” ungkapanya.
Bahasa yang digunakan Aurelie sederhana, jauh dari kesan dramatis berlebihan. Justru karena kesederhanaan itulah ceritanya terasa dekat, seolah pembaca sedang mendengarkan seorang teman yang akhirnya berani bercerita setelah lama diam.
Menulis sebagai Bentuk Bertahan Hidup
Lebih dari sekadar memoar, Broken Strings menjadi medium penyembuhan. Menulis bagi Aurelie bukan hanya cara bercerita, tetapi juga cara bertahan dan memahami dirinya sendiri. Setiap halaman terasa seperti proses merangkai kembali senar yang pernah putus perlahan, tidak sempurna, namun penuh kesadaran.
“Aku tidak menulis untuk menyalahkan siapa pun,” tulisnya. Aku menulis agar aku bisa jujur pada diriku sendiri.”
Buku ini juga tidak menawarkan solusi instan atau nasihat klise. Tidak ada janji bahwa luka akan segera hilang. Yang ada hanyalah kejujuran tentang proses bahwa pemulihan adalah perjalanan yang naik turun, dan setiap langkah kecil tetap berarti.
Ruang Aman bagi Banyak Orang
Tak heran jika Broken Strings mendapat respons luas dari pembaca. Banyak yang merasa kisah Aurelie mencerminkan pengalaman mereka sendiri tentang relasi yang melelahkan, trauma yang dipendam, dan usaha untuk kembali mengenal diri.
“Kalau kamu membaca buku ini dan merasa ‘aku tidak sendirian’, maka tujuan bukuku tercapai,” tulis Aurelie.
Buku ini pun sering disebut sebagai “teman sunyi” oleh pembacanya bukan untuk dibaca terburu-buru, melainkan dinikmati perlahan, pada waktu-waktu ketika seseorang membutuhkan penguatan tanpa penghakiman.
Dari Keberanian Menuju Harapan
Keputusan Aurelie untuk membagikan kisah hidupnya bukanlah hal yang mudah. Namun justru dari keberanian itulah Broken Strings menemukan kekuatannya. Buku ini mengingatkan bahwa rapuh bukan berarti lemah, dan luka bukan sesuatu yang harus disembunyikan.
“Aku belajar bahwa tidak apa-apa untuk berhenti sejenak. Tidak semua hal harus diselesaikan hari ini.” tulis Aurelie.
Lewat Broken Strings, Aurelie Moeremans tidak hanya menulis tentang masa lalunya, tetapi juga membuka percakapan yang lebih luas tentang kesehatan mental, batasan diri, dan keberanian untuk memilih diri sendiri. Sebuah pengingat lembut bahwa dari senar yang patah, seseorang masih bisa menciptakan melodi baru dengan caranya sendiri.***
Penulis: Rizal Akbar
Editor: Permadani T.
