Tuturpedia.com — Piala Dunia 2026 akan menjadi edisi paling megah dalam sejarah sepak bola. Untuk pertama kalinya, turnamen digelar di tiga negara sekaligus—Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko—serta diikuti 48 peserta. Namun di balik gegap gempita tersebut, ada satu cerita yang selalu menyertai setiap Piala Dunia: sejumlah pemain besar harus menonton dari rumah.
Cedera, penurunan performa, perubahan strategi pelatih, hingga kegagalan tim nasional lolos ke putaran final menjadi alasan mengapa beberapa nama yang selama bertahun-tahun menghiasi panggung sepak bola dunia akhirnya tidak masuk dalam daftar peserta Piala Dunia 2026.
Bagi sebagian pemain, ini mungkin hanya penundaan mimpi. Namun bagi yang sudah memasuki usia matang, absennya mereka bisa menjadi kesempatan terakhir yang hilang untuk tampil di panggung sepak bola terbesar dunia.
Serge Gnabry: Cedera Datang di Saat yang Paling Kejam
Di antara seluruh nama yang absen, kisah penyerang Jerman, Serge Gnabry, termasuk yang paling menyakitkan.
Pemain Bayern München itu mengalami robekan otot adduktor paha kanan pada April 2026. Cedera tersebut memaksanya mengakhiri musim lebih cepat sekaligus mengubur harapan tampil di Piala Dunia. FIFA dan federasi sepak bola Jerman mengonfirmasi bahwa masa pemulihan Gnabry tidak memungkinkan dirinya kembali tepat waktu untuk turnamen di Amerika Utara.
Ironisnya, ini bukan pertama kali Gnabry kehilangan Piala Dunia akibat cedera. Pada 2018, ia juga gagal tampil karena masalah serupa. Ketika performanya sedang kembali menanjak bersama Bayern, nasib kembali tidak berpihak.
Xavi Simons dan Mimpi yang Terhenti oleh ACL
Belanda kehilangan salah satu kreator serangan terbaiknya. Gelandang serang Xavi Simons dipastikan absen setelah mengalami cedera ligamen lutut anterior (ACL) saat membela klubnya pada April 2026. Cedera ACL merupakan salah satu cedera paling serius dalam sepak bola modern dan biasanya membutuhkan masa pemulihan berbulan-bulan. FIFA menyebut Simons secara resmi tidak akan tersedia untuk skuad Belanda di Piala Dunia 2026.
Bagi tim Oranje, kehilangan Simons berarti kehilangan pemain yang mampu menjadi penghubung lini tengah dan lini depan. Meski Belanda masih memiliki kedalaman skuad yang baik, kreativitas Simons sulit digantikan sepenuhnya.
Rodrygo: Korban Padatnya Kalender Sepak Bola
Brasil datang ke Piala Dunia dengan status salah satu favorit, tetapi tanpa salah satu penyerang paling berbakat yang mereka miliki.
Rodrygo disebut harus menepi setelah mengalami masalah fisik serius usai menjalani musim yang panjang dan padat. Sejumlah laporan internasional memasukkan nama Rodrygo dalam daftar pemain yang tidak dapat tampil di Piala Dunia akibat cedera yang mengakhiri musimnya lebih cepat.
Kehilangan Rodrygo tentu mengurangi variasi serangan Brasil. Meski demikian, kedalaman skuad Selecao membuat mereka masih memiliki banyak opsi di lini depan.
Paulo Dybala dan Pergeseran Generasi Argentina
Jika ada satu negara yang relatif tenang menghadapi kehilangan pemain bintang, itu adalah Argentina.
Nama Paulo Dybala tidak masuk dalam rencana utama tim nasional. Di tengah munculnya generasi baru pasca-gelar dunia 2022, pelatih lebih banyak memberi ruang kepada pemain yang lebih muda dan dinilai lebih sesuai dengan kebutuhan taktis tim.
Situasi ini menggambarkan bagaimana sepak bola internasional terus bergerak. Reputasi besar tidak selalu menjamin tempat di skuad ketika regenerasi sedang berlangsung.
Harry Maguire: Dari Pilar ke Pilihan Alternatif
Nasib serupa dialami bek Inggris, Harry Maguire. Bek yang pernah menjadi andalan Inggris dalam beberapa turnamen besar itu tidak lagi menjadi pilihan utama. Persaingan ketat di sektor pertahanan membuat staf pelatih lebih memilih kombinasi bek yang dianggap lebih cocok dengan pendekatan permainan saat ini.
Absennya Maguire menjadi simbol perubahan generasi di skuad Inggris yang kini semakin banyak dihuni pemain muda.
Eduardo Camavinga dan Persaingan Ketat Prancis
Tidak banyak negara yang memiliki kedalaman skuad seperti Prancis. Karena itu, pemain berkualitas sekalipun bisa kehilangan tempat. Nama Eduardo Camavinga disebut berada di luar prioritas utama setelah performanya sepanjang musim dinilai belum mencapai level terbaik.
Bagi banyak negara, Camavinga mungkin akan langsung menjadi starter. Namun bagi Prancis, persaingan di lini tengah begitu ketat sehingga margin kesalahannya sangat kecil.
Robert Lewandowski: Ketika Tim Nasional Gagal Mengimbangi Sang Bintang
Cerita berbeda dialami Robert Lewandowski. Striker legendaris Polandia itu tidak absen karena cedera atau keputusan pelatih. Ia harus melewatkan Piala Dunia karena negaranya gagal mengamankan tiket ke putaran final.
Bagi Lewandowski, yang sudah tampil pada edisi 2018 dan 2022, kegagalan Polandia lolos menjadi pukulan besar. Salah satu penyerang terbaik generasinya kembali kehilangan kesempatan tampil di panggung terbesar sepak bola.
Ademola Lookman dan Mimpi Nigeria yang Tertunda
Nama lain yang tidak akan terlihat di Amerika Utara adalah Ademola Lookman.
Meski tampil impresif di level klub dalam beberapa musim terakhir, Lookman tidak dapat tampil karena Nigeria gagal mengamankan tempat di putaran final. Kegagalan tim berjuluk Super Eagles itu menjadi salah satu kejutan terbesar dalam rangkaian kualifikasi Piala Dunia 2026.
Lebih dari Sekadar Daftar Absen
Piala Dunia selalu menghadirkan paradoks. Di satu sisi, turnamen ini memperkenalkan wajah-wajah baru yang siap menjadi bintang. Di sisi lain, selalu ada pemain besar yang harus tersingkir sebelum kompetisi dimulai.
Absennya Gnabry, Simons, Rodrygo, Dybala, Maguire, Camavinga, Lewandowski, hingga Lookman menunjukkan bahwa Piala Dunia tidak hanya soal siapa yang berhasil datang, tetapi juga tentang siapa yang gagal sampai ke garis start.
Ketika bola pertama ditendang di Amerika Utara nanti, perhatian dunia memang akan tertuju kepada para pemain yang berada di lapangan. Namun di balik sorotan itu, ada cerita lain tentang mimpi yang tertunda, cedera yang datang di waktu yang salah, dan generasi yang perlahan digantikan oleh generasi berikutnya. Itulah sisi paling manusiawi dari Piala Dunia bahwa tidak semua bintang mendapat kesempatan untuk bersinar.***
