Jakarta, Tuturpedia.com — Badan Gizi Nasional (BGN) menetapkan target ambisius untuk tahun 2026: menekan hingga nol kasus keracunan dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang saat ini menjadi salah satu program nasional paling luas jangkauannya.
Langkah ini disampaikan dalam sebuah konferensi pers yang digelar di Jakarta oleh Wakil Kepala BGN, Nanik Sudaryati Deyang.
Program MBG sendiri merupakan inisiatif besar pemerintah yang bertujuan menyediakan makanan bergizi secara cuma-cuma bagi jutaan anak sekolah dan kelompok rentan di seluruh Indonesia. Di balik tujuan mulia itu, sejumlah laporan mengenai kasus keracunan sepanjang 2025 sempat menggugah keprihatinan masyarakat dan mendorong BGN melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program ini.
Dalam pemaparannya, Nanik menegaskan bahwa BGN sedang memperkuat serangkaian protokol keamanan pangan, mulai dari standar kebersihan dapur hingga pengawasan distribusi makanan. Menurutnya, tanpa upaya serius dari seluruh pihak yang terlibat, target nol kasus tersebut dirasa mustahil dicapai.
Tapi, pernyataan Nanik yang kemudian menjadi sorotan publik adalah saat ia menyampaikan keyakinannya soal upaya tersebut sambil menyinggung hal yang menurutnya berada di luar kontrol manusia.
“Kalau menggaransi itu Allah yang garansi ya, tapi kita akan berusaha bekerja keras untuk meminimalisir,” ucap Nanik S. Deyang.
Kutipan tersebut memicu diskusi luas di ruang publik dan media sosial, karena sebagian warga menafsirkannya sebagai penekanan bahwa pencapaian “nol kasus” bergantung pada keyakinan spiritual, bukan semata peningkatan sistem pengawasan. Sementara sebagian lain menilai pernyataan itu mencerminkan kerendahan hati dalam menyikapi ambisi besar tersebut.
Perbaikan Sistem Pengawasan MBG
Untuk mencapai target tanpa insiden keracunan, BGN telah menggandeng berbagai pihak, termasuk instansi kesehatan dan pemerintah daerah, untuk memperketat prosedur operasional di setiap dapur penyedia MBG yang tersebar di ribuan titik di seluruh Indonesia. Langkah ini mencakup kewajiban mendapatkan sertifikasi kebersihan dan sanitasi sebelum dapur bisa kembali beroperasi secara penuh.
Selain itu, berbagai perbaikan teknis juga diterapkan, seperti pengawasan ketat terhadap sumber air, bahan baku pangan, serta distribusi makanan ke sekolah-sekolah. BGN menegaskan bahwa dapur yang gagal memenuhi standar akan dikenai sanksi administratif hingga penutupan layanan.
Sorotan Terhadap Kasus Keracunan di Masa Lalu
Target ambisius ini muncul dalam konteks puluhan hingga ribuan laporan kasus keracunan yang tercatat sepanjang 2025. Data dari organisasi pemantau dan media menunjukkan bahwa sejumlah besar penerima MBG pernah mengalami gangguan pencernaan atau keracunan selama periode tersebut, yang pemicunya berkaitan dengan faktor sanitasi dan prosedur yang belum optimal di beberapa lokasi.
Peristiwa-peristiwa ini memicu kritik tajam terhadap mekanisme pelaksanaan program MBG, termasuk desakan untuk meninjau ulang SOP (standar operasional prosedur) dan pengawasan keamanan pangan di seluruh rantai penyediaan makanan bergizi.
Respons Publik & Tantangan ke Depan
Reaksi publik terhadap pengumuman target nol kasus sangat beragam. Sebagian masyarakat mengapresiasi upaya perbaikan sistem yang tengah dilakukan, tetapi banyak juga yang mempertanyakan kewajaran target tersebut mengingat sejarah kasus keracunan dalam skala besar yang sudah terjadi. Apalagi pernyataan yang menyebut “Allah yang garansi” ikut memperkuat perdebatan tentang peran pemerintah dalam menjamin keselamatan pangan program yang menyentuh jutaan orang.
Ke depan, publik akan terus mengamati apakah perbaikan sistem dan pengawasan yang diterapkan oleh BGN serta instansi terkait benar-benar mampu mengantar MBG kepada kondisi yang lebih aman dan terhindar dari insiden keracunan, tanpa harus mengorbankan kualitas pelayanan bagi penerima manfaat.***
