Tuturpedia.com – Seorang peneliti asal Australia telah mencoba mempelajari bahasa buaya dan ternyata mereka termasuk hewan yang cukup cerewet.
Dikutip dari akun @folkative pada Selasa (5/9/2023), seorang peneliti Sonnie Flores dari University of the Sunshine Coast menyatakan bahwa mereka tengah mempelajari bahasa buaya.
Setelah dilakukan penelitian, kemudian diketahui bahwa buaya ternyata termasuk dalam hewan yang cukup cerewet dan paling vokal. Sonnie Flores berkolaborasi dengan Dr. Dwyer dan peneliti ekologi akustik Dominique Potvin dalam mempelajari bahaya buaya.
Keduanya melakukan penelitian dengan menggunakan pemantauan video inframerah selama 24 jam dan rekaman audio.
Hasil dari penelitian tersebut dapat memperlihatkan hubungan antara suara buaya dengan perilakunya. Fakta menariknya, ketika sedang lapar atau sedang tidak enak badan, buaya cenderung lebih sering mengeluarkan suara dengusan, desisan maupun suara-suara lainnya.
Para peneliti tersebut bahkan dapat mengartikan dari geraman, dentuman, desisan, tamparan kepala yang dilakukan oleh para buaya.
Dengan cara seperti itu, buaya akan memberitahukan kepada sesamanya, misalnya saat buaya tersebut menunjukkan keberadaannya dan status reproduksinya (berahi).
Sehingga buaya lawan jenis tahu dan mereka dapat bertemu serta melakukan proses reproduksi.
Selain peneliti asal Australia, peneliti asal Prancis juga mengungkapkan mengenai bahasa buaya.
Dalam sebuah penelitian tersebut disebutkan bahwa induk dari buaya biasanya bertelur di pasir dan membuat sarang di pasir tersebut lagu diberi tumbuh-tumbuhan guna menjaga telur hingga menetas.
Saat masih dalam telur, bayi-bayi buaya ini akan mengeluarkan panggilan dan merespon terhadap vokalisasi suara saudaranya.
Bahkan sang induk juga akan merespon panggilan dari proses penetasan tersebut, yang akhirnya akan membantu anak-anaknya keluar dari sarang dan membawanya ke mulutnya untuk pergi ke sungai atau kolam.
Bahasa yang dikeluarkan buaya pada masa penetasan ini biasanya terdengar berupa “umph umph umph”.
Belakangan, para ahli biologi mulai mencoba meneliti mekanisme komunikasi akustik yang tepat pada para biaya.
Dalam pertanyaan tersebut, peneliti mempertanyakan apakah sebuah panggilan yang dilakukan oleh buaya ini dapat menginformasikan mengenai identitas spesies seperti yang dilakukan oleh burung dan mamalia lainnya.
Dalam penelitian ini buaya dibagi menjadi dua jenis yaitu crocodylidae (Nile Crocodile) dan alligatoridae (Alligator dan Caiman)
Peneliti merekam panggilan buaya muda dari tiga spesies berbeda yaitu buaya Nile Crocodile, Crocodylus niloticus,Spectacled Caiman Caiman crocodilus dan Black Caiman Melanosuchus niger.
Lalu mulailah para peneliti ini menganalisis struktur akustik dari para biaya tersebut.
Dalam penelitian tersebut panggilan dapat dengan mudahnya dibedakan antara spesies yang berbeda dengan menggunakan klasifikasi statistik.
Lebih lanjut si peneliti ini bahkan melakukan eksperimen kembali untuk melihat apakah ketiga jenis buaya tersebut dapat membedakan panggilan dari tiap spesies berbeda atau tidak.***
Penulis: Niawati
Editor: Nurul Huda















