Indeks
News  

Anies Sebut Reforestasi Jadi Solusi untuk Mengatasi Banjir di Kalimantan

Anies menyebutkan reforestasi sebagai solusi banjir di Kalimantan Barat. Foto: Tangkapan Layar x.com/ALNSYH_
Anies menyebutkan reforestasi sebagai solusi banjir di Kalimantan Barat. Foto: Tangkapan Layar x.com/ALNSYH_

Tuturpedia.comAnies Baswedan, capres 2024 nomor urut 1, berbicara tentang solusi penanganan banjir yang dikeluhkan oleh warga Kalimantan.

Reforestasi adalah solusi yang ditawarkan Anies sebagai rencana penanganan jangka panjang.

Melansir dari acara Desak Anies pada 26 Desember 2023 di Aming Coffee Podomoro, Pontianak, warga mengeluhkan banjir yang kerap kali terjadi dari meluapnya Sungai Kapuas.

Peristiwa banjir tersebut telah menenggelamkan ribuan rumah warga, bahkan tak jarang menyebabkan adanya korban jiwa.

Untuk menanganinya dalam jangka panjang, Anies menawarkan reforestasi atau reboisasi sebagai solusi.

Dilansir Tuturpedia.com dari laman resmi One Tree Planted, reforestasi atau reboisasi adalah proses penanaman kembali pohon di area yang terkena dampak bencana alam, seperti kebakaran hutan dan banjir.

Reforestasi juga digunakan untuk mengatasi daerah yang terkena dampak gangguan non alam, seperti penebangan, pertambangan, dan pembangunan.

Hal ini disebabkan bahwa akar masalah yang Anies lihat sebagai penyebab banjir tersebut adalah lawan dari reforestasi, yaitu deforestasi atau perusakan alam karena bencana seperti banjir atau pembangunan di daerah rawan banjir tersebut.

“Akar masalahnya adalah deforestasi, kemudian pembukaan lahan untuk apa pun juga, apakah untuk perkebunan, apakah untuk pertambangan, itu semua membuat luasan hutan kita menurut kawasan yang bisa menyerap air hujan menurun dan menimbulkan banjir. Itu jangka panjang, harus ada reforestasi,” ujar Anies.

Namun seperti yang telah disebutkan, reforestasi ini adalah solusi untuk jangka panjang. Sementara untuk jangka pendeknya, Anies menawarkan peninjauan kembali sistem pengendalian banjir yang ada di tiap daerah di Kalimantan Barat.

Sistem pengendalian yang dimaksud yaitu dengan membangun semacam dam, tanggul atau bendungan.

“Ketika terjadi banjir, maka berapa lama itu harus surut, kemudian harus dibuatkan semacam pengendalian-pengendalian air, supaya dalam jangka pendek kita bisa menekan volume banjir yang berdampak kepada masyarakat. Karena begitu volume air itu meningkat, harus ada pengendaliannya. Nah, kalau kita tidak siapkan itu, sampai kapan rakyat akan menderita? Jadi harus disiapkan tempat-tempat untuk penampungan. Apakah itu dam, apakah itu tanggul, apakah itu bendungan, sementara sambil reforestasi dilakukan,” demikian jelas Anies tentang sistem pengendalian banjir ini.***

Penulis: Ainusshoffa Rahmatiah

Editor: Annisaa Rahmah

Exit mobile version