Tuturpedia.com — Insiden penyerangan terhadap aktivis kembali mengguncang ruang publik. Kali ini menimpa Andrie Yunus, seorang pegiat hak asasi manusia yang mengalami serangan penyiraman cairan kimia saat melintas di kawasan Salemba, Jakarta Pusat, pada Kamis malam (12/3).
Berdasarkan keterangan awal dari Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan atau KontraS, peristiwa itu terjadi sekitar pukul 23.37 WIB. Saat itu Andrie tengah mengendarai sepeda motor di ruas Jalan Salemba I–Talang.
Di tengah perjalanan, dua orang pria yang berboncengan menggunakan sepeda motor matic diduga Honda Beat keluaran 2016–2021 datang dari arah berlawanan. Mereka mendekati korban dan melancarkan aksi penyerangan secara tiba-tiba.
Menurut KontraS, kedua pelaku menjalankan aksinya dengan cepat. Dari atas motor yang sama, salah satu pelaku menyiramkan cairan yang diduga bersifat keras ke arah wajah korban sebelum kemudian melarikan diri dari lokasi.
Disiram Saat Berkendara
Serangan itu terjadi dalam hitungan detik. Andrie yang tidak sempat menghindar langsung merasakan perih hebat di bagian wajah, terutama pada area mata.
Sejumlah warga yang berada di sekitar lokasi sempat membantu korban setelah kejadian. Andrie kemudian segera dilarikan ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo untuk mendapatkan penanganan medis darurat.
Pemeriksaan awal di rumah sakit menunjukkan adanya luka akibat paparan cairan kimia pada bagian mata. Meski demikian, tim medis masih melakukan observasi lanjutan untuk memastikan tingkat kerusakan jaringan yang ditimbulkan.
KontraS juga menyebut tidak ada barang milik korban yang hilang dalam kejadian tersebut. Fakta ini menguatkan dugaan bahwa insiden itu bukan perampasan atau tindak kriminal biasa, melainkan serangan yang secara spesifik menargetkan korban.
Dugaan Motif dan Kekhawatiran Aktivis
Dalam pernyataannya, KontraS menilai peristiwa ini perlu diusut secara serius oleh aparat penegak hukum. Lembaga tersebut menekankan bahwa penyerangan terhadap aktivis atau pembela HAM bukan sekadar kejahatan biasa, melainkan ancaman terhadap ruang demokrasi.
“Serangan semacam ini tidak boleh dianggap remeh. Negara harus memastikan perlindungan terhadap pembela HAM dan mengusut tuntas pelaku serta motif di baliknya,” demikian salah satu pernyataan yang disampaikan KontraS.
Insiden tersebut juga memicu kekhawatiran di kalangan masyarakat sipil mengenai keselamatan aktivis yang kerap bersuara kritis terhadap berbagai isu publik.
Kecaman dari Pemerintah
Reaksi keras juga datang dari pemerintah. Menteri Hak Asasi Manusia, Natalius Pigai, mengecam keras tindakan penyiraman cairan kimia tersebut.
Dalam keterangannya, Pigai menegaskan bahwa tindakan kekerasan semacam itu merupakan pelanggaran serius terhadap prinsip perlindungan hak asasi manusia.
“Saya sebagai Menteri HAM mengutuk keras penyiraman air keras tersebut,” ujar Pigai dalam pernyataan yang beredar di media.
Ia juga meminta aparat penegak hukum untuk segera mengusut kasus ini secara transparan dan memastikan para pelaku dapat diproses sesuai hukum yang berlaku.
Desakan Pengusutan Tuntas
Kasus penyiraman cairan kimia terhadap aktivis bukanlah yang pertama terjadi di Indonesia. Karena itu, sejumlah organisasi masyarakat sipil mendesak agar penyelidikan dilakukan secara menyeluruh, termasuk menelusuri kemungkinan adanya motif intimidasi terhadap kerja-kerja advokasi HAM.
Sementara itu, kondisi Andrie Yunus masih dalam pemantauan tim medis. Pihak keluarga dan rekan-rekan aktivis berharap korban dapat segera pulih dan pelaku penyerangan dapat segera diidentifikasi.
Di tengah situasi ini, publik kembali diingatkan bahwa perlindungan terhadap pembela HAM bukan sekadar isu sektoral, melainkan bagian penting dari kesehatan demokrasi. Ketika suara kritis diserang, yang dipertaruhkan bukan hanya keselamatan individu melainkan juga ruang kebebasan sipil yang menjadi fondasi negara hukum.***
