Tuturpedia.com – Depopulasi atau penurunan populasi di Jepang semakin meningkat setiap tahunnya. Bukan hanya berdampak pada perekonomian Jepang, hal ini juga mengakibatkan jutaan rumah di Jepang terbengkalai karena semakin banyaknya lansia yang meninggal.
Hingga saat ini, jumlah rumah kosong telah mencapai sembilan juta rumah akibat penurunan populasi di Jepang.
Rumah terbengkalai yang juga sering disebut dengan Akiya ini meningkat pada Oktober 2023 dan angka ini lebih dari setengah juta dibandingkan survei sebelumnya pada 2018.
Jumlah total rumah kosong tersebut mewakili hampir 14% dari seluruh rumah di Jepang. Institut Penelitian Nomura memperkirakan terdapat hampir 11 juta Akiya dan jumlahnya mencapai lebih dari 30% rumah dalam satu dekade.
Akiya yang berjumlah jutaan tersebut pada akhirnya disewakan. Namun yang menjadi permasalahan, rumah tersebut sudah kosong dalam jangka waktu lama dan sebagian besar terletak jauh dari pusat populasi utama.
Selain itu, sangat sulit untuk mendaur ulang properti ini karena sistem warisan dan hak milik di Jepang. Pajak tanah kosong di Jepang lebih tinggi dibandingkan tanah dengan bangunan, sehingga menambah beban keuangan jika merobohkan rumah-rumah tua dan membuat sebagian orang menghindari properti warisan.
Menurut laman South China Morning Post, Senin (6/5/24) mengenai warisan properti di Jepang, pasangan dari orang yang meninggal secara hukum berhak atas setengah dari properti, dan sisanya dibagi di antara anak-anak mereka.
Namun, jika ahli waris tidak bisa ditemukan atau menolak menjual bagiannya, menurut Sulkin, tidak ada solusi.
Meningkatnya Peminat Asing pada Properti di Jepang
Meskipun minat akan properti di Jepang sangat minim dari warga negaranya sendiri, dikutip dari lama The Guardian, terjadi peningkatan minat di kalangan orang asing terhadap melimpahnya properti kosong ini, khususnya rumah Kominka (tradisional) sebagai pilihan akomodasi yang murah dan tidak biasa, rumah liburan atau untuk disewakan kepada wisatawan.
Menurut pemilik properti Kominka di Jepang, Hana Sakata mengatakan saat ini ada banyak hype, khususnya di kalangan orang asing, mengenai rumah pertanian raksasa di Jepang yang tersedia dengan harga sangat murah atau gratis.
Namun, ini merupakan komitmen yang sangat besar dan tidak banyak kontraktor yang dapat memperbaikinya terlebih biaya untuk mengembalikan properti tersebut ke kondisi semula sangat besar.
Sakata menilai jika kemungkinan besar dalam waktu dekat Akiya di Jepang akan dikuasai oleh asing, apalagi melihat Yen yang berada pada titik terendah.***
Penulis: Anna Novita Rachim
Editor: Nurul Huda
