Magelang, Tuturpedia.com – Pemugaran Yasti Mahastupa atau stupa induk Candi Borobudur berlangsung selama lima minggu, pada September hingga Oktober 2026. Pekerjaan konservasi tersebut dilakukan setelah hasil pemantauan dan kajian teknis pada Agustus 2026 menemukan sejumlah persoalan pada struktur batu di bagian puncak candi Buddha tersebut. Kamis (15/10/2026).
Museum dan Cagar Budaya (MCB) melakukan pemugaran untuk menangani pergeseran susunan batu, pelapukan material, rongga, rekahan, serta persoalan penggaraman yang ditemukan pada bagian Mahastupa, khususnya Yasti dan Harmika.
Temuan tersebut menjadi perhatian karena Mahastupa merupakan bagian penting dari struktur Candi Borobudur. Kondisi material yang rapuh, disertai rongga dan rekahan, membutuhkan penanganan terukur agar kerusakan tidak berkembang lebih jauh.
Pemugaran tidak hanya bertujuan memperbaiki kondisi fisik batu, tetapi juga memperkuat dan menstabilkan struktur sehingga keberadaan warisan budaya dunia tersebut dapat terus terjaga.
Ketua Tim Penyusun Heritage Impact Assessment (HIA), Ali Akbar, menjelaskan bahwa kondisi Yasti diketahui melalui serangkaian pemeriksaan teknis. Tim menggunakan teknologi Ground Penetrating Radar (GPR), pemindaian ultrasonik, serta hammer test untuk memeriksa kondisi struktur dan material batu.
Berdasarkan hasil pemeriksaan, bagian Yasti diketahui masih utuh. Namun, keutuhan tersebut tidak berarti kondisinya sepenuhnya aman. Materialnya dinilai rapuh dan memiliki sejumlah rongga serta rekahan yang perlu ditangani melalui proses konservasi.
Posisi Yasti yang berada di puncak Mahastupa membuat penanganannya membutuhkan kehati-hatian tinggi. Setiap tindakan harus mempertimbangkan kondisi struktur, karakteristik material, serta prinsip pelestarian cagar budaya.
“Penanganan ini juga menjadi kesempatan untuk memahami lebih jauh kondisi bagian atas Borobudur yang sudah lama tidak mendapatkan pemugaran menyeluruh,” kata Ali Akbar.
Pemugaran kali ini sekaligus menjadi momentum untuk mengevaluasi kondisi material dan metode penanganan yang pernah diterapkan sebelumnya. Perkembangan ilmu konservasi memungkinkan proses perawatan dilakukan dengan pendekatan yang lebih terukur berdasarkan hasil pemeriksaan ilmiah.
Selain pergeseran susunan batu, persoalan pelapukan, rongga, rekahan, dan penggaraman juga menjadi fokus pekerjaan. Faktor lingkungan, perubahan cuaca, serta perubahan iklim turut dipertimbangkan dalam upaya menjaga ketahanan material batu.
Penggaraman merupakan salah satu persoalan yang perlu diperhatikan dalam konservasi batu cagar budaya karena proses pembentukan dan pergerakan garam dapat berkontribusi terhadap kerusakan material, bergantung pada kondisi batu dan lingkungan sekitarnya.
Melalui pemugaran tersebut, MCB berupaya memastikan struktur Mahastupa tetap stabil sekaligus mengurangi risiko kerusakan lanjutan.
Pekerjaan konservasi ditargetkan selesai pada 24 Oktober 2026. Meski demikian, jadwal tersebut dapat disesuaikan dengan kondisi teknis yang ditemukan selama proses pengerjaan berlangsung.
Setelah pekerjaan selesai, area yang sementara ditutup akan dibuka kembali secara bertahap. Pembukaan dilakukan setelah pemeriksaan akhir memastikan kondisi area aman bagi pengunjung.
Pemugaran Yasti Mahastupa menjadi bagian dari upaya berkelanjutan untuk menjaga Candi Borobudur agar tetap lestari. Sebagai peninggalan sejarah dan kebudayaan yang memiliki nilai penting bagi Indonesia dan dunia, perawatan struktur candi membutuhkan pemantauan berkala, kajian ilmiah, serta penanganan yang mengutamakan keselamatan dan keaslian warisan budaya.
Penulis: Lilik Yuliantoro | Editor: Permadani T.














