Blora, Tuturpedia.com — Wakil Bupati Blora, Hj. Sri Setyorini, meminta camat, kepala desa, lurah, hingga perangkat wilayah turun langsung menemui masyarakat untuk memastikan program penanggulangan kemiskinan benar-benar tepat sasaran. Pemerintah daerah diminta tidak hanya berpegang pada data administratif, tetapi juga melihat kondisi nyata warga yang membutuhkan bantuan. Sabtu, (10/10/2026).
Pesan tersebut disampaikan Sri Setyorini yang akrab disapa Budhe Rini saat memimpin Rapat Koordinasi Penguatan Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan (TKPK) Kecamatan di Ruang Pertemuan Sekretariat Daerah Kabupaten Blora, Senin (5/10). Rapat dihadiri jajaran organisasi perangkat daerah (OPD), para camat, serta Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Blora.
Budhe Rini menegaskan, penanganan kemiskinan membutuhkan kepekaan dan gerak cepat dari seluruh jajaran pemerintahan, terutama aparat yang paling dekat dengan masyarakat.
“Kita tidak boleh hanya melihat data, tetapi harus melihat kondisi riil di lapangan. Kalau ada keluarga yang membutuhkan bantuan, jangan menunggu. Segera laporkan dan carikan solusi bersama,” tegasnya.
Angka Kemiskinan Blora Ditargetkan Turun
Berdasarkan data yang disampaikan dalam rapat tersebut, angka kemiskinan Kabupaten Blora pada 2025 tercatat sebesar 10,58 persen. Pada 2026, pemerintah menargetkan angka tersebut kembali turun sekitar 0,11 hingga 0,71 persen.
Target itu membutuhkan kerja bersama, mulai dari pemutakhiran data penerima bantuan, identifikasi keluarga miskin, hingga penanganan persoalan yang menyebabkan masyarakat sulit meningkatkan taraf hidupnya.
Camat, kepala desa, dan lurah dinilai memiliki peran penting karena mereka berinteraksi langsung dengan masyarakat dan lebih mengetahui kondisi sosial ekonomi warga di wilayah masing-masing.
Pendataan yang akurat menjadi salah satu kunci agar bantuan tidak salah sasaran. Keluarga yang benar-benar membutuhkan harus teridentifikasi, sementara persoalan warga yang belum tertangani perlu segera dikoordinasikan dengan instansi terkait.
Bukan Sekadar Bansos, Warga Harus Didorong Mandiri
Budhe Rini juga menekankan bahwa penanggulangan kemiskinan tidak cukup hanya mengandalkan bantuan sosial. Pemerintah perlu memperkuat program pemberdayaan ekonomi agar keluarga penerima manfaat memiliki sumber penghasilan yang berkelanjutan.
Salah satu contoh yang disampaikan adalah bantuan produktif berupa ayam petelur. Program semacam ini berpotensi menjadi sumber pendapatan keluarga apabila disertai dukungan kandang, ketersediaan pakan, serta pendampingan yang memadai.
Dengan dukungan tersebut, bantuan diharapkan tidak berhenti sebagai pemberian sesaat, melainkan berkembang menjadi kegiatan produktif yang mampu menopang kebutuhan rumah tangga.
Namun, keberhasilan program pemberdayaan juga membutuhkan perencanaan yang sesuai dengan kemampuan penerima, kondisi lingkungan, dan peluang pasar. Karena itu, pendampingan menjadi bagian penting agar bantuan benar-benar memberikan manfaat ekonomi.
Penanggulangan Kemiskinan Perlu Kerja Lintas Sektor
Selain persoalan pendapatan, kemiskinan juga berkaitan erat dengan akses pendidikan, kesehatan, kelayakan rumah, dan pemenuhan kebutuhan dasar lainnya.
Oleh sebab itu, penanganannya tidak bisa dibebankan kepada satu instansi saja. Diperlukan kolaborasi lintas OPD, pemerintah kecamatan dan desa, Baznas, serta berbagai pihak yang memiliki program pemberdayaan dan bantuan sosial.
Melalui penguatan TKPK Kecamatan, koordinasi antarpihak diharapkan semakin efektif dalam mengidentifikasi persoalan warga, menentukan bentuk intervensi, serta memastikan program yang dijalankan sesuai kebutuhan masyarakat.
Pesan utama Budhe Rini cukup jelas: penanggulangan kemiskinan harus dimulai dari kondisi nyata di lapangan. Aparat wilayah tidak cukup hanya mengurus laporan dan administrasi, tetapi perlu memastikan bahwa keluarga yang membutuhkan benar-benar terjangkau program pemerintah.
Dengan pendataan yang akurat, respons cepat, dan pemberdayaan ekonomi yang berkelanjutan, target penurunan angka kemiskinan Blora diharapkan dapat dicapai sekaligus memberikan dampak nyata bagi kehidupan masyarakat.
Penulis: Lilik Yuliantoro | Editor: Permadani T.














