Kuningan (MASS), Tuturpedia.com – Rencana pengembangan energi panas bumi atau geotermal di Kabupaten Kuningan mulai mendapat perhatian serius dari masyarakat di sekitar Desa Sukamukti, Kecamatan Jalaksana.
Warga meminta agar setiap tahapan pengembangan geotermal tidak hanya mempertimbangkan potensi energi, tetapi juga memperhatikan keberlangsungan lingkungan dan kehidupan masyarakat yang selama ini bergantung pada sumber daya alam di kawasan tersebut.
Kekhawatiran itu disampaikan Kepala Desa Sukamukti, Nana Mulyana. Menurutnya, kawasan alam di sekitar desa memiliki peran penting bagi kehidupan masyarakat. Sumber air, lahan pertanian, kawasan hutan hingga ekosistem yang ada menjadi bagian dari penopang kehidupan warga.
Karena itu, masyarakat meminta adanya kajian lingkungan yang menyeluruh serta pengawasan ketat apabila rencana pengembangan geotermal tersebut berlanjut.
“Kami menyampaikan aspirasi ini atas nama masyarakat. Kekhawatiran kami adalah jangan sampai pembangunan geotermal justru menimbulkan kerusakan terhadap alam, mengganggu sumber air, lahan pertanian, maupun keseimbangan lingkungan yang selama ini menjadi penopang kehidupan masyarakat,” ungkap Nana, Selasa (6/10/2026).
Menurutnya, pembangunan energi memang memiliki tujuan penting, tetapi kepentingan tersebut perlu berjalan beriringan dengan perlindungan terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar.
Bagi warga Sukamukti, persoalan sumber air menjadi salah satu perhatian utama. Air bukan hanya berkaitan dengan kebutuhan sehari-hari, tetapi juga memiliki hubungan erat dengan aktivitas pertanian dan keberlangsungan ekosistem di kawasan sekitar desa.
Begitu pula dengan lahan pertanian. Perubahan kondisi lingkungan, menurut kekhawatiran warga, perlu dikaji secara cermat agar tidak menimbulkan persoalan baru bagi masyarakat yang menggantungkan kehidupannya dari sektor pertanian.
Nana menegaskan, aspirasi masyarakat bukan semata-mata mengenai pembangunan atau tidaknya proyek energi panas bumi. Warga menginginkan adanya kepastian bahwa aspek keselamatan lingkungan, sumber air, pertanian, serta kehidupan masyarakat benar-benar menjadi pertimbangan dalam setiap tahapan pengembangan.
“Yang kami harapkan adalah jangan sampai pembangunan yang tujuannya untuk menghasilkan energi justru mengorbankan lingkungan dan kehidupan masyarakat,” ujarnya.
Karena itu, masyarakat meminta pemerintah dan pihak terkait membuka ruang dialog serta memberikan informasi yang transparan mengenai rencana pengembangan geotermal, termasuk kajian dampak lingkungan, penggunaan lahan, perlindungan sumber air, hingga mekanisme pengawasan apabila kegiatan berjalan.
Bagi warga Sukamukti, pembangunan energi tidak cukup hanya diukur dari seberapa besar energi yang dapat dihasilkan. Ada pertanyaan lain yang juga harus dijawab: bagaimana memastikan sumber air tetap terjaga, lahan pertanian tetap produktif, dan lingkungan tetap menjadi ruang hidup masyarakat?
Pertanyaan tersebut kini menjadi bagian dari aspirasi warga di tengah rencana pengembangan energi geotermal di wilayah Kuningan.
Penulis: Lilik Yuliantoro | Editor: Permadani T.














