Lagu “MBG: Mas Bahlil Ganteng” Viral di Medsos, Golkar Tanggapi Santai: Apresiasi Kerja Pak Bahlil

TUTURPEDIA - Lagu “MBG: Mas Bahlil Ganteng” Viral di Medsos, Golkar Tanggapi Santai: Apresiasi Kerja Pak Bahlil
banner 120x600

Tuturpedia.com – Jagat media sosial kembali melahirkan fenomena yang sulit ditebak arahnya. Setelah beberapa bulan terakhir publik Indonesia diramaikan tren remix politik, potongan pidato pejabat, hingga lagu-lagu absurd yang berubah menjadi meme kolektif, kini muncul satu nama baru yang mendadak berseliweran di TikTok, Instagram Reels, hingga X yakni lagu “MBG: Mas Bahlil Ganteng”.

Lagu bernuansa jenaka itu muncul dengan lirik ringan, repetitif, dan sengaja dibuat nyeleneh. Namun justru karena kesederhanaannya, potongan lagu tersebut cepat menyebar dan dipakai ribuan pengguna media sosial untuk berbagai konten, mulai dari edit video politik, parodi, hingga hiburan receh khas internet Indonesia.

Nama Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral sekaligus Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, mendadak berubah menjadi “soundtrack internet” dalam beberapa hari terakhir.

TUTURPEDIA - Lagu “MBG: Mas Bahlil Ganteng” Viral di Medsos, Golkar Tanggapi Santai: Apresiasi Kerja Pak Bahlil

Di tengah derasnya arus video yang memakai lagu tersebut, publik kemudian menunggu bagaimana respons Bahlil sendiri terkait fenomena ini? Tenyata jawabannya ternyata jauh dari kesan tegang.

Sekretaris Jenderal Partai Golkar, Sarmuji mengatakan Bahlil justru menanggapi fenomena itu dengan santai. Sarmuji menilai tren lagu “MBG: Mas Bahlil Ganteng” merupakan bentuk spontan kreativitas publik digital. Ia mengatakan lagu tersebut lahir sebagai bentuk apresiasi netizen terhadap kerja keras Bahlil selama ini.

“Itu, kan, justru berasal dari kreativitas netizen sebagai salah satu bentuk penghargaan netizen atas kerja keras Pak Bahlil. Kalau ada akun Golkar yang ikut meramaikan, ya wajar saja, mereka bagian dari netizen juga,” ujar Sarmuji dalam keterangannya pada Rabu (27/5/2026).

Pernyataan serupa juga disampaikan Wakil Ketua Umum Partai Golkar Idrus Marham. Ia menilai fenomena viral itu tidak perlu dipandang secara negatif selama masih berada dalam batas candaan publik yang sehat.

“Pak Bahlil kalau ada hal seperti itu ketawa-ketawa saja, menghargai kreativitas seperti itu dan tentu tidak boleh kita marah,” kata Idrus Marham dalam keterangannya pada Kamis (28/5/2026).

Alih-alih mempermasalahkan, Golkar justru melihat fenomena tersebut sebagai bagian dari kultur digital baru, ketika tokoh politik tak lagi hadir semata sebagai figur formal, tetapi juga menjadi bagian dari percakapan populer masyarakat internet.

Fenomena ini memperlihatkan bagaimana batas antara politik dan budaya pop digital makin tipis. Dulu, citra elite politik dibangun lewat konferensi pers resmi, baliho raksasa, atau pidato panjang di televisi. Kini, satu potongan audio berdurasi belasan detik bisa lebih efektif membentuk persepsi publik dibanding kampanye konvensional.

Banyak pengguna TikTok memanfaatkan lagu “Mas Bahlil Ganteng” untuk membuat konten absurd khas internet seperti dipadukan dengan video random dan meme. Sebagian lain menjadikannya satire ringan terhadap kultur politik Indonesia yang semakin cair di media sosial.

Salah satu bagian yang paling sering dipakai berbunyi:

“MBG, Mas Bahlil ganteng.”

“Buah apa yang paling manis? Buahlil.”

“Tambah ganteng aja, my little bolu ketan.”

Kalimat-kalimat itu terdengar acak, bahkan absurd. Namun justru di situlah letak kekuatan budaya meme internet, semakin sederhana dan tidak masuk akal, semakin mudah direplikasi dan menyebar.

Fenomena seperti ini sebenarnya bukan hal baru di ruang digital Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, media sosial memang semakin akrab dengan kultur remix politik. Tokoh publik bukan lagi sekadar figur resmi, melainkan juga karakter internet yang bisa diolah menjadi meme, sound viral, hingga bahan candaan kolektif.

Bedanya, respons para pejabat terhadap fenomena tersebut sering kali menentukan arah perbincangan publik. Ketika ada tokoh yang merespons terlalu serius, internet biasanya justru semakin gaduh. Sebaliknya, respons santai cenderung membuat gelombang meme cepat mereda dan berubah menjadi hiburan sesaat.

Di titik itulah respons Bahlil dianggap menarik. Tidak ada bantahan keras, tidak ada laporan hukum, dan tidak ada nada keberatan dari partai. Yang muncul justru tawa dan sikap santai.

Bagi sebagian pengamat komunikasi politik, respons semacam ini menunjukkan bahwa elite politik Indonesia mulai memahami logika budaya digital bahwa internet tidak selalu bisa dihadapi dengan pendekatan formal.

Media sosial bekerja dengan mekanisme yang berbeda. Sesuatu bisa viral bukan karena penting, melainkan karena lucu, absurd, dan mudah direplikasi. Lagu “Mas Bahlil Ganteng” mungkin tidak memiliki makna politik mendalam, tetapi ia berhasil menangkap satu hal yang paling dicari algoritma saat ini yakni atensi. Dan di era politik digital, atensi sering kali lebih mahal daripada pidato panjang.***

Penulis: Rizal Akbar Editor: Permadani T.
tuturpedia.com - 2026