News  

Kritik Dibungkam: Wartawan Tuturpedia Walk Out Usai Dua Kali Diusir Moderator Komisaris BPE Blora, Saat Menyampaikan Kebenaran Menyoal Butuh Pabrik Padat Karya dan Diframing!

TUTURPEDIA - Kritik Dibungkam: Wartawan Tuturpedia Walk Out Usai Dua Kali Diusir Moderator Komisaris BPE Blora, Saat Menyampaikan Kebenaran Menyoal Butuh Pabrik Padat Karya dan Diframing!
banner 120x600

Blora, Tuturpedia.com — Insiden pengusiran wartawan kembali terjadi dalam forum resmi bertajuk Ngopi Bareng Forkopimda Blora dengan tema “Blora Ramah Investasi” yang digelar di Auditorium Polres Blora, Selasa (26/5/2026).

Kegiatan tersebut sejatinya menjadi ruang dialog terbuka yang mempertemukan berbagai unsur, mulai dari pemerintah daerah, kepolisian, DPRD, organisasi masyarakat, LSM, hingga media.

Namun suasana forum berubah tegang saat seorang wartawan dari tuturpedia.com, Lilik Yuliantoro, diduga mengalami framing di medsos sekaligus pengusiran oleh moderator yang juga diketahui menjabat sebagai komisaris BPE Blora.

Dalam video yang beredar, Lilik terlihat seolah-olah menolak keberadaan investasi pabrik di Blora. Padahal, berdasarkan keterangan saksi di lapangan, pernyataan tersebut dinilai tidak utuh dan berpotensi menyesatkan.

Menurut sejumlah saksi, Lilik justru tengah menyampaikan gagasan spontan agar arah investasi di Blora difokuskan pada sektor padat karya, seperti industri sepatu, tas, dan garmen. Hal itu dinilai relevan dengan kondisi riil di lapangan, di mana banyak lulusan SMA, SMK, hingga sarjana asal Blora harus merantau ke luar daerah untuk mencari pekerjaan.

Namun, saat menyampaikan
pendapatnya, moderator disebut justru memotong pembicaraan dan meminta aparat Satpol PP untuk mengeluarkannya dari forum. Bahkan, upaya pengusiran terjadi hingga dua kali sebelum akhirnya Lilik memilih walk out secara mandiri.

Saat dikonfirmasi, Lilik menegaskan bahwa apa yang ia lakukan murni bentuk kepedulian terhadap kondisi ketenagakerjaan dan kegelisahan sebagai salah satu pemuda di Blora.

“Saya hanya ingin menyampaikan realita yang terjadi. Banyak anak-anak Blora harus keluar kota untuk bekerja. Forum ini seharusnya menjadi ruang solusi bersama, bukan malah membungkam suara. Dari awal kurang lebih 3 jam cuma teori-teori dan sedikit-sedikit membahas minyak. Padahal yang dibahas itu-itu saja. Dan fokuslah pada padat karya, seperti pabrik sepatu, tas, baju, garmen dan lain sebagainya,”ujarnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa selama ini dirinya telah aktif mengupayakan masuknya investasi padat karya ke Blora. Di antaranya dengan mengirimkan surat ke sejumlah perusahaan di Jawa Tengah dan Jawa Timur, serta melakukan audiensi langsung dengan Wakil Gubernur Jawa Tengah, Gus Yasin.

Dengan adanya insiden ini, masyarakat diimbau untuk tidak langsung menelan mentah-mentah informasi yang beredar, terutama yang berpotensi memutarbalikkan fakta.

Di sisi lain, kejadian ini menjadi sorotan terhadap profesionalitas penyelenggara forum, BPE Blora. Publik berharap adanya evaluasi internal, termasuk dalam hal penunjukan moderator agar lebih bijak dan mampu menjaga ruang diskusi tetap kondusif.

Terlebih, diketahui bahwa kegiatan tersebut didanai melalui DPRD Blora dan difasilitasi oleh Kesbangpol, sehingga semestinya menjunjung tinggi prinsip keterbukaan dan demokrasi.

Hingga berita ini diturunkan, pihak BPE maupun DPRD Blora belum memberikan tanggapan resmi terkait insiden tersebut.

Perlu diketahui bersama, sebelumnya seorang wartawan diklaim meninggal dunia saat meliput demonstrasi di Kabupaten Pati, Jawa Tengah pada Rabu (13/8/2025) yang berakhir ricuh.

Sebagai konteks, sejumlah masyarakat di Kabupaten Pati melakukan aksi demonstrasi di depan kantor bupati pada Rabu (13/8/2025).

Mereka mendesak Bupati Pati, Sudewo mundur dari jabatannya usai menaikkan Pajak Bumi Bangunan (PBB) sebesar 250 persen.

Wartawan yang disebut meninggal itu bernama Lilik Yuliantoro dari media Tuturpedia. Namun setelah ditelusuri, narasi tersebut tidak benar atau hoaks.

Penulis: Lilik Yuliantoro Editor: Permadani T.
tuturpedia.com - 2026