Semarang, Tuturpedia.com — Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Tengah resmi meluncurkan Rumah Bersama Ekspor Jawa Tengah atau Central Java Trade and Export Center (CJTEC). Peluncuran digelar di Grand Candi Hotel Semarang, Jumat (30/1/2026), sebagai upaya memperkuat akses UMKM lokal ke pasar internasional.
CJTEC diperkenalkan sebagai ruang kolaborasi sekaligus pusat layanan ekspor bagi pelaku usaha kecil dan menengah. Fasilitas ini diharapkan mampu menjembatani berbagai kendala yang selama ini dihadapi UMKM ketika ingin menembus pasar global.

Peluncuran CJTEC dilakukan oleh Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Jawa Tengah Nawal Arafah Yasin, Direktur Kadin Indonesia Trading House Esther Mandagi, Ketua Kadin Jawa Tengah Harry Nuryanto, serta Koordinator CJTEC Syahnaz Nadya.
Ketua Dekranasda Jateng, Nawal Arafah Yasin, menyampaikan bahwa CJTEC dirancang sebagai “rumah bersama” bagi UMKM yang ingin naik kelas melalui jalur ekspor. Menurutnya, pelaku UMKM masih menghadapi banyak tantangan untuk masuk ke pasar luar negeri, mulai dari perbedaan budaya dan bahasa hingga pemahaman karakter konsumen global.

“CJTEC diharapkan bisa menjadi penghubung sekaligus pendamping bagi UMKM agar lebih siap menembus pasar internasional,” ujar Nawal.
Ia menambahkan, peran CJTEC tidak sebatas mempertemukan pelaku usaha dengan calon pembeli, tetapi juga membantu proses penyiapan produk. Salah satunya melalui kurasi, agar kualitas, desain, dan kapasitas produksi UMKM sesuai dengan standar negara tujuan.
“Selama ini kurasi banyak dibantu Bank Indonesia. Dengan CJTEC, pelaku UMKM juga akan lebih memahami karakter pasar yang mereka tuju,” kata Nawal.

Nawal menilai, meskipun jumlah UMKM di Jawa Tengah sangat besar, partisipasi dalam pameran internasional maupun ekspor masih relatif terbatas. Melalui CJTEC, proses seleksi dan pendampingan diharapkan mampu meningkatkan daya saing produk lokal.
Selain kurasi, Dekranasda Jateng juga akan melibatkan CJTEC dalam penyelenggaraan business matching, yakni pertemuan langsung antara pelaku UMKM dengan calon buyer dan eksportir.
“Ke depan, keberanian UMKM yang masih berada di tahap awal harus terus didorong agar bisa naik kelas. Business matching menjadi salah satu langkah penting, dan itu bisa kita lakukan bersama CJTEC,” ujarnya.
Dari sisi kinerja, Nawal menyebut ekspor nonmigas Jawa Tengah menunjukkan tren positif. Pada November 2025, nilai ekspor tercatat tumbuh 14,59 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, dari 977,97 juta dolar AS menjadi 1.120,69 juta dolar AS.
Secara kumulatif, nilai ekspor Jawa Tengah sepanjang Januari hingga November 2025 mencapai 11.433,61 juta dolar AS, meningkat 9,69 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024 sebesar 10.024,54 juta dolar AS. Amerika Serikat, Jepang, dan Tiongkok masih menjadi negara tujuan utama.
Menurut Nawal, sejumlah produk unggulan Jawa Tengah telah menarik minat pasar global, khususnya dari sektor kriya dan UMKM. Di antaranya Naruna Ceramik asal Salatiga yang memproduksi peralatan rumah tangga, serta Roro Kenes dari Kota Semarang dengan produk tas anyaman kulit.
Potensi besar juga datang dari sentra tenun troso di Jepara. Terdapat 344 unit usaha yang bergerak di sektor ini dengan nilai ekonomi mencapai sekitar Rp25,8 miliar per bulan.
Sejalan dengan arahan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin, Dekranasda Jateng terus mendorong pola pembinaan berjenjang. Dalam skema ini, UMKM yang telah mapan didorong untuk membina pelaku usaha yang masih berkembang.
“UMKM besar membina UMKM kecil. Itu menjadi salah satu program prioritas Dekranasda Jawa Tengah,” tutur Nawal.
Sementara itu, Ketua Kadin Jawa Tengah Harry Nuryanto menjelaskan, gagasan membentuk Rumah Bersama Ekspor lahir dari banyaknya tantangan yang dihadapi dunia usaha, khususnya UMKM. Tantangan tersebut mencakup persaingan global yang semakin ketat, percepatan digitalisasi, hingga tuntutan standar produk internasional.
Menurut Harry, CJTEC dirancang sebagai pusat integrasi berbagai fungsi strategis, mulai dari penyediaan data dan intelijen ekspor, kurasi dan kesiapan produk, penguatan jejaring pasar, peningkatan kapasitas pelaku usaha, akses pembiayaan, hingga dukungan kebijakan vokasi.
“Kami berharap CJTEC menjadi ruang kolaborasi bersama, sehingga pelaku usaha di Jawa Tengah bisa melangkah lebih cepat dan lebih jauh dalam menembus pasar global,” ujar Harry.***
Kontributor Jawa Tengah: Rizal Akbar















