Tuturpedia.com — Film terbaru karya sutradara Joko Anwar kembali mencatatkan prestasi di panggung internasional. Ghost in the Cell resmi terpilih untuk diputar dalam Berlin International Film Festival (Berlinale) 2026, salah satu festival film paling prestisius di dunia. Film ini masuk dalam section Forum, sebuah kategori yang dikenal memiliki kurasi ketat terhadap karya-karya dengan visi sinematik kuat dan relevansi sosial yang tajam.
Section Forum di Berlinale selama ini menjadi ruang bagi film-film yang berani secara bentuk dan gagasan. Tidak hanya menampilkan karya eksperimental, Forum juga dikenal sebagai rumah bagi film genre yang memiliki komentar sosial dan politik yang kuat. Terpilihnya Ghost in the Cell menempatkan film ini sejajar dengan karya-karya internasional yang mendorong batas sinema dan menawarkan perspektif yang tidak lazim.

Dalam sejarahnya, Berlinale Forum juga pernah memutar film-film besar seperti Snowpiercer karya Bong Joon-ho dan Exhuma karya Jang Jae-hyun sebagai special screening. Hal ini menegaskan bahwa Forum bukan hanya ruang arthouse, tetapi juga tempat bagi film dengan skala besar yang tetap menjaga identitas artistik dan kedalaman gagasan sosialnya.

Programmer Berlinale, Barbara Wurm, dalam rilis pers menyebut bahwa film-film yang dipilih di Forum adalah karya sineas yang memahami dampak sosial dari film mereka. “These are films by people who take their work and its impact seriously,” ujar Barbara Wurm, menegaskan pentingnya sinema sebagai medium refleksi sosial, budaya, dan politik.
Joko Anwar mengaku bangga film ke-12 yang ia sutradarai ini dapat masuk dalam section tersebut. “Section ini dikenal sebagai section yang secara kuratorial selalu memilih film yang bukan sekadar mengandalkan cerita, tetapi juga relevansinya kuat dengan situasi sosial dan politik negara asal setiap film,” kata Joko Anwar.
Ghost in the Cell dijadwalkan diputar selama rangkaian Berlinale pada 12–22 Februari 2026 dan akan melakukan world premiere di bioskop bersejarah Delphi Filmpalast am Zoo, Berlin. Penayangan ini sekaligus menjadi pertemuan pertama film tersebut dengan publik dan komunitas sinema global, termasuk kritikus, kurator, serta pelaku industri film internasional.
Secara cerita, Ghost in the Cell berlatar di sebuah penjara di Indonesia yang dipenuhi kekerasan dan ketidakadilan. Film ini memadukan horor dengan kritik sosial untuk membongkar bagaimana sebuah sistem dapat melindungi kekuasaan, bahkan di ruang yang seharusnya menjadi tempat hukuman. Pendekatan ini menegaskan posisi film sebagai karya genre yang tidak hanya mengandalkan ketegangan, tetapi juga bobot gagasan dan bahasa sinema yang kuat.
Produser film, Tia Hasibuan, menilai terpilihnya Ghost in the Cell di Berlinale menjadi sinyal positif sebelum film ini tayang di bioskop Indonesia. “Ini sekaligus sinyal yang membuat Ghost in the Cell sebagai film yang menjanjikan kekuatan cerita, bahasa sinema, dan gagasan yang kuat,” ujarnya.
Film ini diproduksi oleh Come and See Pictures bekerja sama dengan RAPI Films dan Legacy Pictures, serta didukung Barunson E&A sebagai sales agent untuk distribusi internasional. Ghost in the Cell direncanakan tayang di bioskop Indonesia pada tahun 2026.
Kontributor: Sarah Limbeng















