banner 728x250
News  

Syirik: Danyang Laut Selatan, Ketika Cinta, Ritual Sesat, dan Iman Bertabrakan di Tengah Desa Terlarang

TUTURPEDIA - Syirik: Danyang Laut Selatan, Ketika Cinta, Ritual Sesat, dan Iman Bertabrakan di Tengah Desa Terlarang
banner 120x600
TUTURPEDIA - Syirik: Danyang Laut Selatan, Ketika Cinta, Ritual Sesat, dan Iman Bertabrakan di Tengah Desa Terlarang
Syirik: Danyang Laut Selatan, Ketika Cinta, Ritual Sesat, dan Iman Bertabrakan di Tengah Desa Terlarang 4

tuturpedia.com—Dalam derasnya arus film horor Indonesia yang kerap mengandalkan jump scare, hadir sebuah judul yang berbeda dan berani menantang formula lama, Syirik: Danyang Laut Selatan. Film ini hadir bukan sekadar untuk menakuti, tetapi menggali lebih dalam — ke akar budaya, ritual sesat, serta spiritualitas yang mengguncang.

Dengan alur emosional dan narasi yang menyentuh, film ini membidik sisi batin penonton. Bukan hanya rasa takut, tapi juga pertanyaan-pertanyaan besar tentang cinta, iman, dan harga sebuah kepercayaan.

Di balik nuansa mistisnya, Syirik menyimpan kisah cinta tragis antara Said, seorang santri yang pulang kampung, dan Sari, perempuan yang terjebak dalam lingkaran tradisi gelap. Cinta mereka diuji oleh kekuatan supranatural dan tekanan keluarga.

Cinta mereka diuji oleh tradisi kuno, tekanan keluarga, serta ancaman dari kekuatan gaib.

Tokoh Said menjadi pusat konflik spiritual. Ia pulang ke desanya yang ternyata telah tergelincir ke dalam praktik syirik dan ritual sesat. Pilihannya: membiarkan atau melawan, walau berisiko kehilangan cinta dan nyawanya sendiri.

Ki Dalang adalah tokoh jahat yang memperkuat tensi cerita. Ia mempraktikkan ilmu hitam dan memimpin ritual tumbal demi kekuatan. Namun, bukan hanya Ki Dalang yang bermasalah. Sang lurah desa juga dihadapkan pada pilihan: menyelamatkan warga atau melindungi rahasia kelam desanya.

Konflik ini menjadi cerminan tentang pengorbanan, ambisi, dan kekuasaan yang menyesatkan.

Pertarungan antara iman dan penyimpangan ini menjadikan Syirik sebagai film horor dengan dimensi moral yang dalam.

Film ini dibintangi oleh nama-nama besar seperti Teuku Rassya, Donny Alamsyah, Kinaryosih, Totos Rasiti, Richelle Skornicki, Nikita Mirzani. Richelle tampil mengejutkan dalam perannya sebagai Sari, tokoh utama perempuan yang sarat dilema dan pergolakan batin. Ini menjadi debut Richelle di genre horor — dan ia tampil memikat. Sementara itu, Nikita Mirzani menunjukkan sisi lain yang belum pernah terlihat.

Dalam film ini, Nikita menunjukkan dedikasinya sebagai aktris, dengan peran yang menantang dan emosional.

Bagi Nikita, ini bukan sekadar akting — ini titik balik karier dan pembuktian bahwa ia mampu bersaing di ranah akting serius.

Film ini dengan berani menyingkap mitos dan legenda Jawa yang jarang disentuh film horor lain. Mulai dari, kisah Danyang Laut Selatan, praktik pulung gantung, ritual pengorbanan manusia, hingga konsep menyeramkan seperti “wayang kulit manusia”.

Semua dibalut dengan visual sinematik yang kuat dan narasi lokal yang otentik. Inilah horor yang terasa nyata dan dekat dengan akar budaya Nusantara. Mengambil lokasi syuting di Wonosari, film ini menyuguhkan lanskap yang memukau. Hutan-hutan lebat, jalan desa berkabut, hingga bangunan tua berarsitektur khas Jawa memperkuat atmosfer magis dan menegangkan.

Keindahan visual dari pemandangan alam hingga elemen arsitektur lokal memperkuat atmosfer mencekam dalam setiap adegannya.

Tim produksi menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk meriset dan merancang tampilan film agar autentik dan menghormati budaya lokal.

Film Syirik: Danyang Laut Selatan akan resmi tayang di seluruh bioskop Indonesia mulai 19 Juni 2025. Ini adalah film yang layak untuk ditonton bukan hanya oleh penggemar horor, tetapi juga mereka yang mencintai film dengan pesan sosial, spiritual, dan budaya yang kuat.

Syirik dirancang bukan hanya untuk menakuti, tetapi juga menggugah pemikiran penonton mengenai dampak dari keserakahan, ambisi, dan penyimpangan keyakinan.

Syirik: Danyang Laut Selatan adalah representasi dari horor Indonesia yang matang dan berkelas. Ia menawarkan ketegangan, keindahan, sekaligus refleksi. Di tengah dunia yang penuh modernitas, film ini mengajak kita untuk menengok kembali akar budaya — dan bertanya: seberapa kuat iman kita menghadapi godaan kegelapan?

Penulis: Permadani T. Editor: Permadani T.
tuturpedia.com - 2026